Jumat, 01 April 2011

Sinergi


Sinergisitas menjadi isu terhangat yang dibicarakan saat ini, terutama di lingkungan lembaga dakwah kampus (LDK) di ITS seperti JMMI dan LDJ. Memang, visi Jamaah Masjid Manuril Ilmi (JMMI) periode ini mensinergikan LDJK di ITS. Namun, ketika ditanya sinergi apa yang diinginkan. Banyak dari elemen LDK belum memahaminya. Lalu bagaimana kelanjutannya?

Ini bisa dimaklumi karena isu sinergisitas LDJ dan JMMI baru muncul pada tahun kepengurusan ini. Saya memaknai, kebutuhan akan sinergisitas ini merupakan efek dari berkembangnya sebuah LDK. Sejatinya LDK terdiri dari Lembaga dakwah pusat (LDP), Lembaga dakwah fakultas (LDF) dan Lembaga Dakwah Jurusan (LDJ). Namun, untuk di ITS hanya ada dua yaitu JMMI yang berperan LDP dan LDJ yang berada di masing-masing jurusan.

Dulu, ketika awal diidirikan sekitar tahun 1980an. JMMI hanya berfungsi untuk memakmurkan Masjid Manarul Ilmi. Namun seiring berkembangnya dinamika kampus, maka pada September tahun 1989 JMMI secara resmi menjadi lembaga dakwak kampus yang perannya tidak hanya memakmurkan masjid, namum lebih luas ke masyarakat kampus.

Waktu terus berjalan sampai tahun lalu, tahun 2010. Rupaya Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) 21 JMMI yang bertugas mengonsep kepengurusan satu tahun sadar bahwa, peran LDJ yang signifikan. Bahkan bisa dikatakan ujung tombak JMMI. Mengapa saya katakan begitu, karena jika JMMI diibaratkan bom dan target dakwah diibaratkan sasaran bom. Maka JMMI seperti bom besar yang daya ledaknya menjangkau tempat tertentu dan mempunyai radius yang tertentu pula, akibatnya banyak tempat yang tidak bisa terjangkau oleh JMMI karena terbatasi oleh radius tersebut.

Sedangkan LDJ, seperti bom-bom kecil namun fokus pada target. Dan ini akan lebih berdampak jika bisa dioptimalkan dengan baik. Namun kondisi saat ini, JMMI dan LDJ seperti bekerja sendiri-sendiri dan bahkan parahnya pada beberapa momen kelihatannya saling berebut target dakwah. Sebenarnya, hal ini bisa dihindari, apabila dari awal LDJ dan JMMI mempunyai kesepakatan bersama. Kesepakatan yang menyebutkan dimana ranah JMMI dan dimana ranah LDJ, serta dimana peran JMMI dan dimana peran LDJ.
Sungguh indahnya jika LDJ dan JMMI seperti itu, dakwah di ITS akan lebih terasa dampaknya dan tidak pasang surut. Oleh karena itu, setelah mengamati dan berdiskusi dengan banyak elemen dakwah dari LDJ, JMMI, alumni serta objek dakwah. Dapat disimpulan sementara bahwa kita dapat memahami sinergi yang dimaksud disini adalah kesepakatan bersama JMMI dan LDJ untuk melancarkan dan merapikan dakwah di kampus ITS.

Lalu, muncul pertanyaan kembali, kesepakatan seperti apa yang ingin dicapai. Ini merupakan pertanyaan yang wajib dijawab. Disini semua eleman dakwah kampus mempunyai peran dan suara untuk mengusulkan kesepakatan apa yang ingin disepakati. Pada tulisan ini, saya akan mencoba sedikit menjelaskan kesepakatan apa yang kira-kira nanti akan kita sepakati. Dan ini bukan merupakan hasil final, namun presepsi saya pribadi sebagai salah satu eleman dalam LDK.

Pertama adalah kesepakatan di bidang pembinaan. Pembinaan menjadi aspek utama dalam suatu lembaga dakwah kampus, disinilah ujung tombak dari suatu LDK. Pembinaan disini meliputi kaderisasi dan mentoring, sebenarnya kedua hal tersebut tidak bisa dipisahkan. Namun melihat kondisi di ITS, kedua hal tersebut tidak masalah bila dipisahkan dari sisi strukstural, namun secara makna tidak boleh dipisahkan.

Nantinya,  pembinaan yang diharapkan adalah pembinaan yang terpusat. Pembinaan LDK di ITS memiliki kestandaran materi yang sama dan penyempaiannya diharapkan juga sama, sehingga output yang dihasilkan bisa sama. Terpusat disini bukan berarti semua pembinaan dilakukan JMMI, namum terpusat disini adalah kombinasi LDJ JMMI untuk melakukan pembinaan secara bersama-sama dan terkoordinasi.

Dalam pelaksanaan nanti, bisa disepakati antara JMMI dan LDJ bagaimana pembinaan yang sesuai dengan kondisi terkini LDJ dan JMMI. Harapannya, semua pihak nantinya bisa terpuaskan dan menjadi simbiosis mutualisme. Disini juga dibutuhkan keterbukaan wawasan bagi elemen LDK, kita bisa belajar dari LDK yang mapan dan sudah melakukan sinkronisasi antara LDJ dan LDP, seperti kalau di Indonesia ada LDK SALAM Universitas Indonesia dan  GAMAIS ITB. Dan saya kira tidak ada salahnya jika kita belajar pada mereka.

Kedua adalah kesepakatan dalam bidang syiar, setelah pembinaan berjalan dan kuat, Maka tahap berikutnya adalah syiar, sebenarnya pembinaan dan syiar bisa berjalan bersama. Namun dalam pelaksanaanya bisa menyesuaikan kondisi terkini di ITS.

Dalam pelaksanaannya, kesepakatan dalam bidang syiar bisa dilakukan dengan cara  syiar merakyat yang terkoordinasi. Disini, syiar lebih ditekankan dan difokuskan di LDJ, karena LDJlah yang paling dekat dengan objek  dakwah. Dan bukan berarti JMMI tidak melakukan apa-apa, JMMI tetap mempunyai peran yang sangat penting yaitu membacking semua syiar LDJ, bahkan jika memungkinkan JMMI dapat memberikan support pendanaan ke LDJ. Dan syiar yang dilakukan JMMI adalah syiar besar dan bisa mendatangkan masa banyak, dan ini bisa dilakukan missal setengah tahun sekali saja.

Selanjutnya, koordinasi merupakan aspek penting, disini LDJ se-ITS dan JMMI diharapkan seragam dalam menanggapi sebuah isu. Penentuan isu setiap bulannya bisa dilakukan dengan kesepakatan pimpinan LDJ dan JMMI pada forum pimpinan LDK yang sudah ada, seperti Rapat Pimpinan yang dilakukan setiap satu bulan sekali oleh Forum Silturahmi Lembaga Dakwah Jurusan (FSLDJ) JMMI ITS.

Ketiga adalah kesepakatan dalam bidang kelembagaan. Disinilah diatur dimana posisi LDJ dan JMMI, serta hak dan kewajiban dari LDJ dan JMMI, serta mana peran ketua LDJ  dan mana peran ketua JMMI. Diharapkan, posisinya antara LDJ dan JMMI tetap sejajar, namun yang membedakan adalah fungsi dan garis koordinasninya saja. Disini juga harus ditetapkan peran LDJ dalam JMMI dan sebaliknya dalam internal kelembagaan.

Bisa dilakukan seperti LDJ mempunyai suara dalam penentuan ketua JMMI, bagaimana mekanismenya bisa disepakati nanti antara LDJ dan JMMI. Namun untuk pemilihan ketua LDJ, tetap diusahakan dilakukan di LDJ sendiri dan JMMI hanya berperan sebegai pengawas dan pengontrol saja.

Serta ada hal lagi yang sangat penting, yaitu pemetaan dan pembagian kader antara LDJ dan JMMI. Harapannya, LDJ dan JMMI tidak saling berebut kader, disini dibuat kesepakatan bagaiman sistem pembagian kader, misal pembatasan pengurus JMMI atau juga bisa disepakati jumlah 60% PH JMMI dipengurusan selanjutnya adalah mantan ketua LDJ di ITS sebelumnnya. Serta yang paling penting, dalam setiap even penting JMMI seperti pemilihan ketua umum harus melibatkan semua civitas di ITS.

Disini membutuhkan kekreatifan pengurus JMMI bagaimana supaya semua civitas di ITS dilibatkan dalam even ini, namun tetap tidak mengurangi makna pemilihan sesuai sistem sebelumnya. Misal, yang pernah dilakukan tahun 2008 lalu yaitu mempublikasikan semua calon ketum dan mempersilahkan semua civitas di ITS untuk memilih ketum favorit dengan menggunakan Short Message Service (SMS).

Keempat adalah kesepakatan dalam bidang keputrian. Sebenarnya ada yang lebih paham dalam bidang ini, yaitu para keputrian LDK di ITS. Tapi saya mencoba memberikan gambaran versi saya. Keputrian mempunyai peran yang sangat penting dalam sebuah LDK, mulai dari karakternya yang khas sampai cara pendekatannya ke objek dakwah  terutama perempuan yang hanya bisa dilakukan oleh seorang keputrian sendiri.

Nanti, harapanya ada kesepakatan antara keputrian JMMI dan LDJ, karena melihat kondisi di ITS yang jumlah keputrian di jurusan yang sangat minim. Sehingga butuh dukungan dari keputrian jurusan lain yang kuat untuk mendukung keputrian di jurusan lainnya. Dukungan ini bisa dilakukan dalam support mentor untuk mentoring bagi jurusan yang kurang mentor putri atau dukungan dalam bentuk lainnya seperti bantuan panitia untuk acara keputrian di LDJ. Namun, sekali lagi, yang tahu kondisi perempuan hanyalah perempuan, karena hati hanya bisa disentuh dengan hati.

Muktamar Dakwah Kampus 1

Setelah jelas apa yang mau disepekati, kita membutuhkan alat untuk mengetuk palu kesepakan tersebut. Disnilah kesepakatn tersebut akan menjadi resmi, berbobot hukum dan semua elemen dakwah kampus setelah itu bisa langsung action. Dan salah satu alat yang bisa digunakan adalah muktamar dakwah kampus 1 (MDK 1).

Selain untuk meresmikan kesepakatan yang telah yang dibuat, muktamar juga bisa digunakan sebagai ajang syiar besar-besaran di kampus ITS. Semunya harus terlibat disini, termasuk semua LDJ di ITS, dan JMMI sebagai koordinator harus intens mengajak LDJ untuk bergabung dalam serangkaian acara muktamar nanti.

Rangkain acara muktamar ini bisa dilakukan dengan mengadakan acara baru atau mengcompire acara yang sudah ada. Seperti JMMI punya G-Mail, LDJ Teknik Kimia mempunya Kini in Action atau  acara LDJ lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu. Semua acaranya tersebut bisa dijadikan satu rangkaian acara road to muktamar dan terkoordinasi. Selain untuk memulai sinergi dalam berbagai acara, moment ini juga bisa digunakan untuk saling memotivasi antar LDJ untuk terus meningkatnya kreativitasnya.

Dan kepanitiaan dalam acara ini juga harus melibatkan semua eleman, khusus untuk acara muktamar dan road to muktamar harus disediakan tim Sreening Committee (SC) sendiri. Komponen tim SC ini bisa diambil dari perwakilan wilayah FSLDJ dan JMMI, atau dengan cara lain. Yang penting semua eleman dakwah, baik itu LDJ dan JMMI merasa mempunyai acara ini dan ada tekat untuk mensukseskan acara ini.

Dan Output dari mutamar ini adalah buku saku kader, kenapa buku saku kader. Saya kira kesepakaatan yang dihasilkan perlu didokumetasikan supaya bisa bertahan lebih lama. Selain itu, ini merupakan bentuk evalusi dari pengalaman sebelumnya, banyak kesepakatan dan kerjasama antara LDJ dan JMMI yang sifatnya lisan, akhirnya setiap ganti kepengurusan tidak ada transfer dan kelanjutan sesudahnya. Kalaupun ada, transfer yang diberikan tidak maksimal karena daya tangkap tiap orang yang berbeda.

Akselerasi LDJ

Ada pernyataan menggelitik yang terpikir di benak saya. Kalau yang disergikan saja tidak ada, maka mungkin bisa sinergi. Iya memang, kalau melihat kondisi LDJ di ITS, jumlah LDJ yang bisa dikatakan mapan bisa dihitung dengan jari. Ini terjadi karena berbagai factor, bisa karena tidak ada SDM, birokrasi kurang mendukung atau bahkan LDJ belum di bentuk di jurusan tersebut.

Namun, saya mencoba berpikir dari sudut pandang yang berbeda. Saya berpendapat, malah dengan sinergi itulah, LDJ akan terakselerasi secara otomatis. Karena secara tidak langsung LDJ dituntut untuk mengikuti kesepakatan bersama, dan ini akan mendorong setiap komponen LDJ berjuang untuk memajukan LDJnya, bisa karena gengsi dengan LDJ di samping kanan kirinya atau alasan lainnya. Namun yang penting adalah, adanya pihak yang selalu mengingatkan bahwa tujuan kita hanya satu, mencari ridhoNya.

Selain itu, dengan adanya sinergi kepedulian antar LDJ akan meningkat. Selama ini, LDJ bukannya tidak peduli. Namun antara LDJ satu dengan LDJ lainnya tidak saling mengetahui kondisinya, ini bisa dimaklumi karena antar LDJ tidak pernah ada komunikasi atau forum bersama untuk komunikasi antar LDJ. Harapannya, setelah kesepakatan terbentuk, selain JMMI dan LDJ, antar LDJ juga harus saling mendukung dan peduli.

Sedangkan peran JMMI dalam akselerasi LDJ sangatlah penting. JMMI harus bisa mengayomi semua LDJ dibawahnya, disini peran JMMI sebagai orang tua, guru sekaligus sahabat bagi LDJ. JMMI harus bisa melakukan fungsi pendampinga dan pengawasan secara istiqomah dengan LDJ. Dan memang, JMMI tidak sanggup kalau harus mengerjakan fungsi ini sendiri.
Disinilah kelihaian management JMMI dipertaruhkan, JMMI bisa memanfaatkan wilayah FSLDJ atau bahkan LDJ yang dekat untuk mambantu melakukan fungsi ini, yang penting kontrol terpusat ada di JMMI, dan JMMI harus selalu mengingatkan ke semua LDJ bahwa tugas kontrol dan pengawasan bukan haya tugas JMMI, namun tugas bersama untuk membangun Dakwah kampus yang komprehensif.(es_panas)







Tidak ada komentar:

Posting Komentar