Minggu, 05 Agustus 2012

Kalau di ITS, Jadilah Kader Tarbiyah yang Pendiam



Ya, jika antum kader tarbiyah di ITS, jadilah kader yang pendiam, tidak usah ngomong, jangan jadi kader yang aktiv mengkritisi, jangan jadi kader yang aktiv mengusulkan usul konkrit dan jangan jadi kader yang menentang orang-orang langit.

Jangan lakukan itu semua jika anda tidak ingin di blacklist atau anda dikeluarkan dari lingkaran langitan. Anda akan menjadi orang bawah yang tahu-tahu jadi, walaupun sebenarnya orang-orang langitan itu (sebagian besar) tidak tahu kondisi real, bahkan dalam follow up hasil musyawarahnya sendiripun kadang-kadang hambar, hasil dalam musyawarah pun kadang-kadang seperti berakhir tanpa efek , musyawarah berakhir ya berakhir, gak ada follow up real.

Kalau antum ingin jadi ikut tataran orang langitan supaya mkontribusinya bisa lebih (harapanya), anda harus jadi orang pendiam dan ‘’orang cari aman’’. Orang seperti itulah yang dipilih, mungkin tidak akan banyak protes dan tidak akan banyak Tanya. Kenapa kok begini dan kenapa kok begitu. Akhirnya musyawarah seperti bagi tugas dan transfer saja, bukan diskusi untuk mencari kebenaran yang benar sebagai sarana ijtihad, tidak seperti musyawarah yang sebenarnya dan esendinya hilang. oleh karena itu, tidak kaget jika realitanya selalu bertentangan dengan hasil, karena sudah ada  masalah di proses. (Baca buku fiqh musyawarah)

Sebenarnya saya kurang pas ketika disebut kader tarbiyah, saya adalah kader muslim yang dilahirkan dengan metode tarbiyah, yang bertujuan panjang untuk menegakan sariat islam di bumi ini, saya tidak malu dan menafikan ini semua karena memang itu adanya.

Banyak persoalan di kampus ini yang harus segera diselesakan dan butuh action langsung, bukankah dalam buku-buku tarbiyah kita diajarkan sedikit bicara, namun banyak bekerja. Dan bahkan, dalam teori manajemen organisasi modern, kebanyakan duduk rapat, bahkan ditinggap top leaderpun adalah cirri oraganisasi/ perusahaan tidak sehat. Lalu apakah tidak rapat, tetap rapat tapi secukupnya dan hasil rapat harus bener-benar diusahan terlaksana, istilah kerannhya rapat yang efisien dan efektis. (baca buku manajemen organisasi)

Saya akan mengupas kondisi teori dari buku ustad satria hadi lubis, beliau juga kader islam tarbiyah. Saya akan membandingkan teori dalam buku itu dengan kondisi real di ITS.

Pertama, untuk melakukan kemenangan dakwah yang harus dilakukan adalah memperhatikan tarbiyaz  dzakiyah  (tarbiyah individual), intinya kedekatan kader dengan Allah swt adalah mutlak dan harus jika dakwah ini ingin menang, konskritnya amal yaumiah kader harus terjaga. Mungkin saya tidak sehebat dan masih jauh dari kriteria kader islam tarbiyah. 

Tetapi yang saya sedikit kecewa, beberapa bahkan banyak orang langitan ITS (studi kasus leadernya leader di ITS) yang biasa mengkonsep dan menyetting dakwah di ITS, seperlihat dan sepengamatan saya masih jauh dari syarat. Setelah shubuh sering tidur, puasa senin kamis tidak jalan, sholat jamaah sering mengakhirkan dan bahkan ‘’makna ukhuwah’’ yang dulu mereka agung-agungkan terasa hampa dalam pelaksanaan.

Saya memang tidak sebaik mereka, saya juga sering bangun telat, tidur bada shubuh dan kejelekan lainnya, mungkin saya yang paling banyak dosanya, hanya karena kebaikan Allah lah yang menutupi maksiat saya sehingga orang hanya tahu yang baik2, saya pun juga sangat jauh dari sarat. Tapi yang saya sesalkan, seorang TOP pengonsep saja seperti itu. 

Saya pernah mendengar kisah seorang murabbi yang sukses mentarbiyahi mad’u2 nya, dengan segala keeterbatasan usia yang sudah tua, penyampaiannya  dan komunikasi tidak begitu bagus. Namun, mad’u nya jadi kader yang handal yang menjadi orang murabbi handal setelahnya. 

Ternyata kuncinya ada di kedekatan melalui amal yaumi si murabbi kepada Allah swt.Inilah yang kita perlu evalusi pertama, kedekatan kita ke Allah swt, terutama antum yang berada di lingkaran langit akhi.. sukses tidaknya jalan ini tegantung kedekatan kita ke yang Maha Pemberi Hidayah, karena kita beriman dan di jalan ini adalah karena nikmatNya ke kita..

Kedua, setalah tarbiyah dzakiyah adalah tarbiyah ijtimaiyah yakni tarbiyah komunal melalui pembinaan halaqoh atau mentoring dan wajihah organisasi.. jelas, jika halaqoh atau mentoring tidak jalan atau tidak sehat maka bisa dipastikan amanah di wajihah juga tidaka akan jalan sehat. Lihat kondisi mentoring wajib saja di ITS, sebelum yang metoring lanjutan. Saya tidak akan mengupas banyak pankang lebar yang harus diperharui mentoring di ITS.

Kuncinya utama adalah  dipembinaan mentor dan pemurrnian fikrah mentor. Jangan harap mentoring akan berbuah hasil jika mentornya tidak dibina. Intinya mentor harus wajib mentoring, mentoringnya juga harus sehat. Oleh karena itu, mentornya mentor adalah orang2 yang seharusnya lebih berkomintmen dari mentor itu sendiri.

Cukup 2 poin itu yang saya tekankan karena itu adalah basicnya. Dan kadang-kadang ada hal yang sering kita lupakan padahal kita sering nyebut-nyebut kata ini. Tabayyun, sebalum antum meng black list seseorang, tabayun  terlebih dahulu ke si dia, kenapa ia berbuat seperti itu. Jangan hanya prasangka dan menerima pendapat dari orang lain. Tanpa melakukan kroscek dan diskusi dengan si dia. Rasullullah dalam sirah nabawiyah mengajarkan ini semua. (poin ini merupakan salah satu curhatan teman saya)

Saya tahu resikonya yang saya akan dapat setelah menulis artikel ini, mungkin saya akan tambah di blazk list . biarlah, cukuplah Allah bagiku..

‘’kami tidak mengharapkan sesuatu dari manusia, tidak mengharap benda atau imbalan yang lainnya, tdak juga popularitas, apalagi ucapan terimakasih. Yang kami harap hanyalah pahala dan ridho dari Allah, Dzat yang telah menciptakan kami’’ ( Imam Hasan Al Banna).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar