Rabu, 01 Agustus 2012

Mencoba Membayangkan Dakwah Kampus Setelah ini



Kalau di ITS, ketika menyebut dakwah kampus, bayangan yang tergambar pertama kali adalah JMMI. Ya, memang tidak salah, seperti itulah kondisi sejauh ini di ITS. Selama ini yang kelihatan ya memang JMMI. Walaupun seharusnya ada empat sekmen yang seharusnya sama-sama bergerak massif. Saya akan mencoba menelisik beberapa kekurangan, ya saya ambil poin kekurangnya saja karena ini yang urgent diperbaiki. Sebenarnya banyak pencapaian-pencapaian, namun semoga kita tidak terlenakan.

Mentoring, terutama mentoring lanjutan seharusnya jalan baik. Bagaimana mentoring wajib mau jalan kalau mentoring lanjutan tidak jalan, para mentor tidak akan punya ruh mentor atau pendidik jika mereka tidak mentoring. Pengawasan amal yaumiah mentor juga akan kacau jika para mentor tidak mentoring. Bagaimna kita bisa mengajak dekat kepada Allas swt, jika kita sendiri para mentor tidak dekat   dengna Allah swt. Ya, PR pertama kita adalah ini, mentoring lanjutan.

Seharusnya, kedepan tidak terlalu mengantungkan dosen, dosen cukup sebagai backingan yang bener-bener backing, muncul ketika semua solusi buntu. Biar kita sedikit mandiri. Masalah mentoring butuh segara diselesaikan. Saya tidak tahu pasti apa penyababnya, perlu dilakukan kajian yang bukan sekedar kajian untuk mengetahui kenapa dari 3000an peserta mente, yang bener-bener bisa aktiv menjadi kader pada tahun kedua hanya 100an, itupun terlalu banyak menurut saya. Kalau diklasifikasikan yang kader unguul mungkin 60an sudah Alhamdulillah.

Data memang menunjukan lebih, pengurus JMMI saja, tahun 2011/2012 ada sekitar 226 orang, belum pengurus LDJnya dan kader yang ada di BEM, HMJ dan lainnya. Pengalaman saya di JMMI, dari 226 pengurus tersebut, yang aktiv terjun kelapangan dan rutin halaqoh mingguan sekitar 50an termasuk PH. Ya , paling banter 70an.

Memang kalau dibandingkan ITATS, Hang tuah dan universitas-universitas di Surabaya kita masih harus bersyukur. Namun jika dibandingkan dengan UGM,UI, ITB, apalagi IPB. Hmhm… kita harus banyak beristigfar. Ya, dari semua masalah yang ada, yang saya tekankan untuk masalah ini dan menjadi basic dari semua masalah, adalah pembinaan (mentoring) kader dan amal yaumi kader. Ketika ada masalah apapun, maka yang harus di cek pertama kali adalah dua hal ini. Bukan hanya untuk mahasiswanya, tapi juga semuanya. Alumni yang masih berkecimpung di dakwah kampus, maaf, termasuk juga bapak-bapak kita yang membina kita. Saling mengingtkan, dengan cara ahsan dan yang santun.

Siyasi, Dipertahankan?
Kenapa ketika menyebut dakwah Cuma tergambar JMMI, karena BEM dan yang lainnya belum menunjukan aktivitas dakwah itu (secara kasat mata). Padahal sudah lebih dari 10 tahun.

Bukannya saya orang yang anti politik, bukan. Politik adalah bagian dari dakwah. Dan itu sangat penting, kebijakan-kebijakan ada di tangan politikus, dan itu harus kita warnai dan kalau bisa kita yang pegang. Namun, saya sedikit mengkritisi untuk di ITS dan untuk kalangan mahasiswa (BEM, HIMA, yudikatif, legistatif, UKM dsb). Selama ini kurang memberikan efek yang signifikan, kita sudah memegang lebih 10 tahun siyasi, namun efeknya kurang terlihat nyata, atau mungkin saya yang kurang peka. Mungkin muncul pertanyaan, lho kalau mau lihat efeknya, kamu akan tahu ketika kita tidak memegang siyasi. Iya bisaa juga menjadi pertimbangan, namun saya kira tidak akan signifikan.

Selama ini, efek buruk yang timbul dari siyasi (terutama efek pemira dan sebagainya) membuat objek dakwah semakin jauh  dengan kita. Saya menyebut temen-temen kantin adalah objek dakwah kita, temen-temen biru juga objek dakwah kita, temen-temen HMI dan ormek lainnya juga target yang seharusnya  kena sentuhan indah dakwah ini. Namun, selama ni yang terjadi sebaliknya, mereka malah memusuhi dan terus menyerang kita. Apa ada yang salah dengan metode yang kita terapkan di ITS, terutama mahasisawa?

Ya, mungkin kita bisa beralasan. Dari dulu islam ya memang banyak yang memusuhi, beginilah islam. Tetapi, apakah tidak bisa kita meniru rasul dan sahabat, minimal tabiin, Hasan Al banana yang eranya tidak jauh dari kita bisa,  yang menjadikan kawan menjadi lawan, seperti menjadikan seorang Khalid yang sangat benci kepada islam menjadi pembela islam, hmhm.. harus ada yang dievalusi. Dicari masalah utama, dicarikan solusi dan semua harus turun.

Saya pernah tersebesit ide sedikit konyol dan pasti banyak pertentangan. Bagaimana satu tahun kepengurusan siyasi (BEM) kita lepas (jujur, sebenarnya kalau melihat dinamika kampus, saya ragu tahun ini masih bisa memegang) ? Kita lihat perbedaannya. Apakah kita akan sama saja, terpojokan dan terhimpit akan terhalang- halangi atau bahkan kita malah akan semakin baik dengan adanya situasi seperti itu.

Kadang-kadang kita harus melepaskan zona nyaman untuk  menyelesekan masalah yang ada. Kenapa generasi assabiqul awwalun dahwah di ITS sangat tangguh-tangguh, karena mereka kreatif, tahan banting, dan punya semangat juang yang tinggi. Kenapa mereka punya sifat seperti itu, karena mereka dulu terkekang ,terisolasi, terjepit bahkan kepepet. Kadang-kadang kita harus mundur sesaat untuk lari cepat setelahnya. Seperti seorang supir yang mengendari mobil ditanjakan, mereka akan mengurangi gigi dengan menginjak kopling, mobilpun mudur sedikut, namun setelah itu ia dapat berlali lebih kencang dan punya kekuatan.

Selain itu, selama ini yang saya  juga mengamati temen-temen2 siyasi juga jarang mengikuti pembinaan-pembinaan seperti mabit, tasqif dan sebagainya. Jangankan temen2 siyasi, temen-temen JMMI dan LDJ pun juga sulit. Inilah PR kita bersama.

Untuk dua lini lagi, saya kira yang satu sudah terinclude di JMMI di pembahasan dia atas dan yang satunya lagi, kita tahu semua. Perkembangan dari dulu sampai sekarang belum berubah, padahal lini inilah yang menjadi pembeda dakwah kampus kita yang notabennye teknologi dengan kampus laiinya. Namun lini ini memang belum tergarap secara maksimal. Ya, bisa dimaklumi, walaupun sebenarnya lini inilah yang bisa menjadikan icon kita di nasional,lini ilmi.

Oya, jika diijinkan. Saya hendak menyoroti sedikit mengenai syitem kita di ITS. Wallhualam, apakah saya yang kurang tahu ataukah cuma pradugaan saya saja. selama ini, setahu saya. Seteleh saya mengamati, saya sedikit menyimpulkan. sistem pemilihan SDM untuk pos-pos saya kurang  sehat, ya ,selama ini yang menjadi parameter utama setahu saya, selain ruhyah dan mentoringnya sehat adalah yang ‘’seharokah’’ dan orang-orang yang kira-kira tidak terlalu bersuara atau sering protes, atau bahasa kasarnya, ‘’bukan pembangkang’’. 

Akhirnya karena memaksakan seperti ini, banyak pos-pos yang ditempati oleh orang yang bukah ahlinya. Padahal kita tahu semua, hadist yang menyebutkan jika kewenangan tidak dipegang yang bukan ahlinya, apa akibatnya. Seharusnya, ada kebijakan kadang-kadang parameter ini lebih dibutuhkan dari paramater satunya, dan saya kira seharusnya bisa fleksibel jika bukan mengedepankan sudut panjang subjektif. Tetapi, saya kira orang-orang atas lebih bijak dan lebih luas pertimbanganya, wallhualam. Kalau benar seperti itu, mungkin saya saja yang kurang pandai berkomunikasi.

Semoga bisikan setan tidak mengalahkan kita. Jujur untuk yang poin ini saya berusaha menjelaskan tanpa menyebutkan identitas atau merk, mungkin pembahasannya kurang bisa pahami, saya berdoa semoga Allah swt membimbing kita.

Setelah Lulus?

Rencana saya setelah ini, Tidak berbeda dengan life plan awal saya. Saat ini saya sedang mengerjakan tugas akhir, saya usahakan bisa ikut sidang akhir pada mid semester ganjil 2012-2012, jadi setelah itu saya bisa focus S2 dan mempersiapkan tesis. Saya akan berusaha dengan ijin Allah swt, TA selesai akhir September 2012, kemudian ikut mid pada oktober dan wisuda S1 pada maret 2013.

Tesis S2 saya ambil semester 3 atau semester genab 2012-2013, saya susun proposal sebelum liburan ganjil dan saya selesekan Juli 2013. Jika Allah menghendaki dan saya akan berusaha keras, wisuda S2 pada September 2013. Sambil jalan menjalani S2 untuk tesis dan sisa mata kuliah, saya akan berusaha memperbaiki TOEFL sampai minimal 550 dan memcari kampus untuk S3 di Jerman. (Semoga Fast Track saya bisa bertahan, saya percaya ini semua rencana Allah swt untuk saya).

Sambil saya mengerjakan Tesis, saya akan mengajukan beasiswa dan kampus untuk S3, saya akan buat proposal research, calling professor yang bisa dihubungi dan mencari jaringan untuk kesana. Saya akan menempuh S3 saya di Jerman selama 3 tahun, selama disana saya ingin menabung untuk persiapan awal hidup ketika pulang di Indonesia. Pada tahun 2016 saya sudah lulus dan akan kembali ke Indonesia. Menjadi dosen ITS dan PNS pada tahun 2018, dan menjadi dosen muda ITS.

Artinya, insyaAllah ADKP, wallahualam..
Semoga Allah swt meridhai, memberikan hidayah, memberikan keistiqomahan di jalan dakwah dan Allah swt selalu membimbing kita, amin.. amin amin…

Ditulis untuk menuhi tugas mentoring 29 Juli 2012
                                     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar