Sabtu, 10 Desember 2011

Adabul Inal ”Pantang untuk Mebangkang’’



Minimal perlu dua hal untuk mencapai tingkatan seorang kader yang memiliki jiwa adabul inal atau sifat pantang untuk membangkang, yakni menjaga integritas diri dan menjaga hubungan dengan Allah SWT.

Kenapa perilaku membangkang sangat dihindari, karena perilaku ini adalah salah satu ciri setan seperti ketika iblis membangkan perintah Allah SWT untuk sujud ke Nabi Adam as. Selain itu sifat membangkang juga sifat menyimpang dari sifat manusia, ketika ia membangkang artinya ia merasa lebih baik. Dampaknya adalah perpecahan, ketidak kompakan dan munculnua faksi-faksi kecil dalam gerakan dakwah. Karena keberhasilan dakwah salah satunya disebabkan kesolidan tim.

Seperti terlihat pada ayat 28 surat Al Kahfi, ”Dan bersabarlah engkau orang yang menyeru kepada Allah SWT dalam pagi dan petang’’.  Ayat itu menjelaskan betapa pentingnya besabar bagi seorang aktivis dakwah, karena ketika kita bersabar dalam dakwah maka artinya kita berkumpul  dengan orang-orang baik yang bersabar dalam dakwah.

”Dengarlah dan taatlah, meskipun yang menjadi pemimpin adalah seorang budak. Walaupun kepalanya seperti kismis,” itu adalah salah satu ungkapan ahli ilmu dan pemimpin yang menunjuk orang untuk menjadi wakilnya. Meskipun ada hal yang tidak mengenakan dari ia, kita diminta untuk menerima dan meneruti ia. Karena belum tentu kita lebih baik darinya.
 
Ada beberapa sebab-sebab membangkan yakni merasa lebih baik, adanya perdebatan dan ini harus dihindari karena akan muncul sifat ingin menang sendiri serta keinginannya ingin menjadi seorang pemimpin atau bernafsu ingin menjadi seorang pemimpin.

Oleh karena itu kita harus dapat mengambil pelajaran surat As Shaf yang isinya orang beramal, amalnya harus nyata dan menjadi tauladan, menunjukan kesolitan tim, mengetahui dakwah pasti akan timbul problematika dan dakwah pasti ada tantangan baik dari internal maupun eksternal.

Jumat, 09 Desember 2011

I’am Spesial


Salah satu sesuatu yang mahal biasanya memiliki ciri-ciri jumlahnya terbatas, spesifikasinyalangka dan bagus serta memiliki performance yang baik. Sedangkan sesuatu yang spesial bisanya memiliki ciri diproduksi terbatas dan dilahirkan sebagai juara dan  super mahal.

Sedangkan siapa yang percaya kekuatan mimpi, hanya orang besaryang berani bermimpi besar. Mimpi dapat di ibaratkan seperti memesan masa depan. Ada sebuah penelitian di harvard University mengenai mahasiswanya.

Dari 100 % mahasiswanya, 20 tahun lalu sekitar tahun 1980an diketahui bahwa 84% mahasiswanya tidak punya mimpi dan hidupnya mengalir, 13% mempunyai mimpi namun tidak mereka tuliskan dan sisanya yakni 3% mempunyai mimpi dan mereka menuliskan mimpinya tersebut.

Anda tahu 20 tahun kemudian, sekitar tahun 2000an. Penelitian tersebut melanjutkan pengamatanya. Dari diketahui hasilnya bahwa mahasiswa yang punya mimpi namun tidak dituliskan menpunyai penghasilan 3x lebih besar dari mahasiswa yang hidupnya mengalir.

Yang paling mengejutkan, mahasiswa yang dulunya mempunyai mimpi dan menuliskan mimpinya mempunyai penghasilan 10x lebih besar dari mahasiswa yang punya mimpi namun tidak dituliskan.  Artinya mereka yang berjumlah 3% ini mempunyai penghasilan 30x dibanding orang hidupnya mengalir.

Anda tahu Jorge Lorenzo, seorang pembalap sekaligus juara moto GP. Ternyata ketika usianya 3 tahun ia sudah bisa naik sepeda motor dan pada usia 8 tahun ia menceritakan cita-citanya bahwa ia ingin jadi juara moto GP. Dan sekitar 15 tahun kemudian, keinginannya itu tercapai. Tentunya dengan perjuangan.

Atau Cristiano Ronaldo, bintang bola dunia  sekaligus pemain bola terbaik dunia. Ia dapat bermain bola sejak 3 tahun dan ketika berumur 9 tahun ia pernah menyampaikan bahwa suatu saat nanti ia ingin menjadi pemain bola terbaik dunia. Dan masih banyak contoh lagi.

Ada 3 kriteria yang mengambarkan sebuah pretasi terbaik, yakni spesifik, terukur dan terdapat batas waktu. Dan jika anda mempunyai mimpi, tuliskan, visualisikan, sampaikan dan rasakan.

Dan itu semua terdapat virus yang dapat menghancurkan mimpi dan harapan kita, yakni menunda. Oleh karena itu, Jangan Menunda, Jangan Menunda, dan Jangan Menunda. Dan tahukan kita, mimpilah yang membuat orang bergerak dan pengusaha sukses adalah iayang merasa dirinya spesial, dan yang penting action. insyaAllah.

Pasti Untung, Gak Percaya?

Percaya atau tidak, tetapi saya percaya dan sangat percaya. Taruhan yang ini adalah taruhan yang pasti untung, taruhan yang pasti kita menang dan taruhan yang membuat kita mendapat rizki atau kenikmatan dunia ini dari arah yang tidak di sangka-sangka, bahkan kebahagian akhirat pun, insyaAllah.

Taruhan ini bukan sembarang taruhan, taruhan yang membutuhkan keyakinan yang benar-benar yakin dan kemantapan hati yang benar-benar mantap. Taruhan ini hanya dilakukan oleh orang yang benar-benar percaya adanya Dzat Yang Maha Satu, Dzat Yang Maha Besar, Dzat Yang Maha Kaya dan Dzat Maha Segala galanya. Taruhan ini, taruhan dengan Rabb kita, Allah SWT.

Yakinkah kau kawan, ketika kau taruhan dengan Rabb mu maka ia akan selalu memenangkanmu, tahukah kau kawan jika doamu selamu dikabulkan oleh Rabbmu, tahukan kau kawan jika permintanmu akan selalu dikabulkan oleh Rabbmu. Tahukh kau kawan bahwa Rabb mu selalu dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadimu.

Ketika kau melangkan satu untuk mendekat kepadaNya, maka Ia melangkah sepuluh kalimendekatimu. Ketika kau melangkah 10 langkah, maka Ia melangkah 100 kali bahlah lebih kawan.

Kawan, maukah kau seperti itu kawan, maukah. Ada saratnya, jika kita ingin mendapatkan semuanya maka kita harus member isemuanya. Waktu kita, harta kita, jiwa kita harus kita berikan kepadaNya. Dan saya kira adil jika skita memberi maka Ia akan juga memberi, bahkan pemberiannya berkali-kali lipat dan sangat besar kawan. Bahkan kita tidak akan menyangka akan diberi sebesar yang tidak kita sangka.

Percayakah kau kawan, percayakan. Terserah apa katamu, Tetapi Aku sangat percaya. Bismillah.. Kulakukan semua ini untuk mencari RidhoMu, Ya Allah

Kamis, 20 Oktober 2011

7 Kebiasaan Efektif

Mungkin buku ini sudah lama, namun saya kira tidak ada salahnya kita mencoba membaca sedikit resume buku karya Stephen R. Covey ini.

TUJUH (7) KEBIASAAN MANUSIA YANG SANGAT EFEKTIF


Kebiasaan 1 : Jadilah Proaktif

Bersikap proaktif adalah lebih dari sekedar mengambil inisiatif. Bersikap proaktif artinya bertanggung jawab atas perilaku kita sendiri (di masa lalu, di masa sekarang, maupun di masa mendatang), dan membuat pilihan-pilihan berdasarkan prinsip-prinsip serta nilai-nilai ketimbang pada suasana hati atau keadaan. Orang-orang proaktif adalah pelaku-pelaku perubahan dan memilih untuk tidak menjadi korban, untuk tidak bersikap reaktif, untuk tidak menyalahkan orang lain. Mereka lakukan ini dengan mengembangkan serta menggunakan keempat karunia manusia yang unik – kesadaran diri, hati nurani, daya imajinasi, dan kehendak bebas – dan dengan menggunakan Pendekatan Dari Dalam Ke Luar untuk menciptakan perubahan. Mereka bertekad menjadi daya pendorong kreatif dalam hidup mereka sendiri, yang adalah keputusan paling mendasar yang bisa diambil setiap orang.

Kebiasaan 2 : Merujuk pada Tujuan Akhir

Segalanya diciptakan dua kali – pertama secara mental, kedua secara fisik. Individu, keluarga, tim, dan organisasi, membentuk masa depannya masing-masing dengan terlebih dulu menciptakan visi serta tujuan setiap proyek secara mental. Mereka bukan menjalani kehidupannya hari demi hari tanpa tujuan-tujuan yang jelas dalam benak mereka. Secara mental mereka identifikasikan prinsip-prinsip, nilai-nilai, hubungan-hubungan, dan tujuan-tujuan yang paling penting bagi mereka sendiri dan membuat komitmen terhadap diri sendiri untuk melaksanakannya. Suatu pernyataan misi adalah bentuk tertinggi dari penciptaan secara mental, yang dapat disusun oleh seorang individu, keluarga, atau organisasi. Pernyataaan misi ini adalah keputusan utama, karena melandasi keputusan-keputusan lainnya. Menciptakan budaya kesamaan misi, visi, dan nilai-nilai, adalah inti dari kepemimpinan.

Kebiasaan 3 : Dahulukan yang Utama

Mendahulukan yang utama adalah penciptaan kedua secara fisik. Mendahulukan yang utama artinya mengorganisasikan dan melaksanakan, apa-apa yang telah diciptakan secara mental (tujuan Anda, visi Anda, nilai-nilai Anda, dan prioritas-prioritas Anda). Hal-hal sekunder tidak didahulukan. Hal-hal utama tidak dikebelakangkan. Individu dan organisasi memfokuskan perhatiannya pada apa yang paling penting, entah mendesak entah tidak. Intinya adalah memastikan diutamakannya hal yang utama.

Kebiasaan 4 : Berpikir Menang/Menang

Berpikir menang/menang adalah cara berpikir yang berusaha mencapai keuntungan bersama, dan didasarkan pada sikap saling menghormati dalam semua interaksi. Berpikir menang/menang adalah didasarkan pada kelimpahan – “kue” yang selamanya cukup, peluang, kekayaan, dan sumber-sumber daya yang berlimpah – ketimbang pada kelangkaan serta persaingan. Berpikir menang/menang artinya tidak berpikir egois (menang/kalah) atau berpikir seperti martir (kalah/menang). Dalam kehidupan bekerja maupun keluarga, para anggotanya berpikir secara saling tergantung – dengan istilah “kita”, bukannya “aku”. Berpikir menang/menang mendorong penyelesaian konflik dan membantu masing-masing individu untuk mencari solusi-solusi yang sama-sama menguntungkan. Berpikir menang/menang artinya berbagi informasi, kekuasaan, pengakuan, dan imbalan.

Kebiasaan 5 : Berusaha untuk Memahami Terlebih dulu, Baru Dipahami

Kalau kita mendengarkan dengan seksama, untuk memahami orang lain, ketimbang untuk menanggapinya, kita memulai komunikasi sejati dan membangun hubungan. Kalau orang lain merasa dipahami, mereka merasa ditegaskan dan dihargai, mau membuka diri, sehingga peluang untuk berbicara secara terbuka serta dipahami terjadi lebih alami dan mudah. Berusaha memahami ini menuntut kemurahan; berusaha dipahami menuntut keberanian. Keefektifan terletak dalam keseimbangan di antara keduanya.

Kebiasaan 6 : Wujudkan Sinergi

Sinergi adalah soal menghasilkan alternatif ketiga – bukan caraku, bukan caramu, melainkan cara ketiga yang lebih baik ketimbang cara kita masing-masing. Memanfaatkan perbedaan-perbedaan yang ada dalam mengatasi masalah, memanfaatkan peluang. Tim-tim serta keluarga-keluarga yang sinergis memanfaatkan kekuatan masing-masing individu sehingga secara keseluruhannya lebih besar seperti ini mengenyampingkan sikap saling merugikan (1 + 1 = 1/2). Mereka tidak puas dengan kompromi (1 + 1 = 1 ½), atau sekedar kerjasama (1 + 1 = 2). Melainkan, mereka kejar kerjasama yang kreatif (1 + 1 = 3 atau lebih).

Kebiasaan 7 : Mengasah Gergaji

Mengasah gergaji adalah soal memperbaharui diri terus-menerus dalam keempat bidang kehidupan dasar: fisik, sosial/emosional, mental, dan rohaniah. Kebiasaan inilah yang meningkatkan kapasitas kita utnuk menerapkan kebiasaan-kebiasaan efektif lainnya. Bagi sebuah organisasi, Kebiasaan 7 menggalakkan visi, pembaharuan, perbaikan terus-menerus, kewaspadaan terhadap kelelahan atau kemerosotan moral, dan memposisikan organisasinya di jalan pertumbuhan yang baru. Bagi sebuah keluarga, Kebiasaan 7 meningkatkan keefektifan lewat kegiatan-kegiatan pribadi maupun keluarga secara berkala, seperti membentuk tradisi-tradisi yang merangsang semangat pembaharuan keluarga.

Rekening Bank Emosional

Rekening Bank Emosional mencerminkan tingkat kepercayaan dalam suatu hubungan. Seperti rekening keuangan di Bank, kita memasukkan simpanan ke atau melakukan penarikan dari rekening ini. Perbuatan-perbuatan seperti berusaha untuk memahami terlebih dulu, sikap murah hati, menepati janji, dan bersikap setia walaupun orang yang bersangkutan tidak hadir, meningkatkan saldo kepercayaan. Tidak murah hati, melanggar janji, dan bergosip tentang seseorang yang tidak hadir, mengurangi atau bahkan menghapuskan kepercayaan dalam suatu hubungan.

Paradigma 

Paradigma adalah cara masing-masing orang memandang dunia, yang belum tentu cocok dengan kenyataan. Paradigma adalah petanya, bukan wilayahnya. Paradigam adalah lensa kita, lewat mana kita lihat segalanya, yang terbentuk oleh cara kita dibesarkan, pengalaman, serta pilihan-pilihan kita selama ini.

referensi : http://haqiqie.wordpress.com/2007/06/17/tujuh-7-kebiasaan-manusia-yang-sangat-efektif-7-habits-of-highly-effective-people-stephen-r-covey/


Kebiasaan yang kedepalan dan menjadi intidari 7 kebiasaan ini udah keluar.. nantikan selanjutnya..


Senin, 05 September 2011

Surat UntukMu Ya Rabb



Kutulis surat ini pada sepertiga malam ganjil di bulan berkah
ya Rabb…
Aku berharap ada jawaban dariMU
Namun, sebelumnya saya mau ungkapkan perasaan padaMu
Bolehkah?
Hmhm…
Boleh ya….
Ya Rabb…
Apakah salah hati ini ya Rabb…
Atau jiwa dan rasa ini?
Apakah salah ya Rabb….
kalau salah
salah dimana ya Rabb
Engkau yang maha Tahu
yang maha membolak balikkan hati
yang bisa mengubah segalanya dalam sedetik
bahkan lebih cepat lagi

Ya Rabb
apakah salah rasa ini
perasaan ini
saya tersiksa ya Rabb…
setiap detik, setiap waktu, bayang-bayangnya tidak bisa lepas dari nubari ini

Ya Rabb engkau maha tahu
engkau tahu yang hambamu ini rasakan

ya Rabb
Aku yakin kau tidak akan membebani hamba melebihi tanggungan hambamu ini Ya Rabb..

tapi ya Rabb…
Saya tidak kuat
Ya Rabb
sampai kapan
ya Rabb
jangan biarkan
gara-gara salah tidak bisa menjaga hati, jiwa dan rasa ini
kapal besar itu tenggelam

Ya Rabb…
cukup saya saja
ya ya Rabb…
iya? iya…

Berilah jalan terbaikMu pada ku ya Rabb
berilah
Aku pasrahlan semua ini padamu Ya Rabb
tapi aku sealu berdoa ada perubahan

Ya Rabb
ya Rabb
Ya Rabb
Aku yakin
Rencanamu pasti lebih indah, Amin
Aku pasrahkan rasa ini, jiwa ini, hati ini
PadaMu

Ya Rabb, aku ingin engakhiri tulisan ini
tapi kok masih ada yang menganjal ya ya Rabb
ya Rabb
sudah ya
hmhm
Aku yakin rencanamu pasli lebih indah
semoga…
Amin…

Rabu, 03 Agustus 2011

Menelisik “Ramadhan sebagai Kampus Kehidupan”


Dalam salah satu harian surat kabar beberapa waktu lalu,  Pak Nuh, sapaan Menteri Pendidikan Nasional Indonesia, Prof Dr Ir Mumahad Nuh DEA, mengatakan bahwa ramadhan adalah kampus kehidupan. Layaknya kampus, pasti ada dosen, mahasiswa dan mata kuliah.


Lalu yang menjadi dosen dan mahasiswa siapa? serta apa mata kuliahnya?. Dalam penjelasan singkatnya, putra pemilik Pondok Pesantren di daerah Surabaya Selatan ini menyebutkan bahwa kita sendirilah yang menjadi dosen dan kita sendirilah yang menjadi mahasiswa. Lalu apa mata kuliahnya, Pak Nuh menuliskan yang menjadi mata kuliah adalah semua hal yang dapat menata hati dan akhlak kita, sehingga menjadi pribadi yang santun dan teladan.

Menurut saya, ada beberapa pesan tersirat dalam tulisan singkat beliau. Pertama, kita diajak menerapkan prinsip take dan give . Sebagai dosen, kita akan memberi ilmu dan sebagai mahasiswa kita akan menerima ilmu. Namun dalam tulisannya tersebut, kita diminta menjadi dosen sekaligus mahasiswa dalam kampus kemidupan ini.  Artinya, kita tidak hanya diajak untuk memberi atau menerima saja, namun kita diajak melakukan dua hal sekaligus, ada saatnya memberi dan ada kalanya juga menerima.

Kedua, kita diajak bersama-sama untuk menanggalkan semua “baju”, artinya apa, kita diminta untuk melihat sesuatu dari sisi berbeda, dan untuk konteks kali ini saya menangkap bahwa kita diajak menerima (dalam hal ini ilmu dan nasehat) tidak melihat dari siapa yang memberi atau mengatakan, namun lebih melihat dari sisi isinya. Beliau menegaskan, tidak selamanya dosen benar dan tidak selamanya mahasiswa juga salah. Namun siapapun yang benar,kita harus menerima dengan lapang dada. 

Ketiga, kita diajak untuk lebih banyak mendengar dan mengevaluasi dalam bulan ramadhan ini. Lebih banyak mendengar artinya kita diajak berusaha menghormati semua orang tanpa pandang bulu, mendengarkan dengan seksama dan antusias dengan siapun lawan bicara kita. Dan evalusi diri, saya menangkap, setelah memberi, menerima, mendengar atau melakukan amalan. Kita diajak evalusi apakah kita melakukannya hanya karena Allah SWT atau ada niat lain yang hanya kita dan Allah SWT yang tahu.
Sebenarnya saya kurang sepakat dengan penggunaan kata kampus dalam  ramadhan sebagai kampus kehidupan yang dipakai Pak Nuh pada tulisannya. Saya menganggap lebih cocok, menggunakan istilah  Ramadhan sebagai kursus kehidupan. Kenapa? bulan ramadhan hanya salah satu bulan dari 12 bulan hijriah maupun masehi dalam satu tahun hitungan skala waktu.

Ramadhan biasanya menjadi sarana mencharge iman dan amal kita, mungkin karena berkah bulan ramadhan atau hidayat Allah SWT ke hamba-hambanya. Ketika bulan ramadhan semua orang tiba-tiba mendadak alim, yang biasanya tidak pernah sholat di masjid, bulan ramadhan sholat di masjid, yang biasanya mengeluarkan Rp 1000 saja untuk shodaqoh beratnya bukan main, namun ketika ramadhan Rp 100000 menjadi sangat enteng.

Ketika ramadhan dibuat bulan kursus dan bulan selanjutnya diibaratkan bulan praktek.  Maka kesenjangan amal dan ibadah antara bulan ramadhan tidak akan terlalu jauh. Dan yang pertama yang menurut saya yang harus kita lakukan adalah mengubah presepsi kita, bulan ramadhan adalah bulan latihan, dan bulan-bulan selanjutya adalah bulan perlombaan. InsyaAllah, kalau presepsi dan main set kita sudah tertanamankan bahwa bulan ramadhan hanya bulan latihan atau kursus dan bulan selanjutnya adalah perlombaannya, maka keistiqomahan pasca ramadhan bukan hanya di ujung lidah saja. Wallahualam.

Senin, 01 Agustus 2011

Melihat lebih dalam “Kata Mereka”



Tahun ini, kelihatannya dinamika mahasiswa kampus ITS sedikit berbeda. Dan yang paling penuh tantangan, penuh controversial, penuh keringat dan mungkin paling penuh menguras uang rakyat, ya, yang namanya musyawarah besar 4. Saya tidak tahu, apakah mubes 4 ini akan menjadi berkah atau musibah buat saya, buat ormawa, buat dakwah di ITS atau buat orang segelintir nan jauh disana. Tapi saya yakin, bismillah… semoga mubes ini menjadi barakah dan manfaat untuk semua.

Saya tidak mau panjang lebar mengenai mubes, namun saya ingin mencoba lebih dalam mencari bukti dan fakta serta menganalisa perkataan yang katanya “teman saya” mengenai wajihah dakwah yang saya cintai, sebut saja dengan Jambu atau disingkat J.

Saya berdiskusi dengan salah satu sesama pejuang di J, ia sudah termasuk salah satu top leader di J, tapi melihat back gound dan track recordnya saya tahu mengapa ia berpikir dan berpandangan seperti itu. Saya suka dengan cara pandangnya yang terbuka daripada temen-temen yang lain, namun kadang-kadang si dia ini sering kelewatan dan melampaui batas.

Oya kok jadi ngomongin orang, maaf ya.. haha.. ia berkata seperti ini “ Saat ini kita harus membuka mata, membuka hati, membuka telinga terhadap luar, lihat tuh J dihancurin dan diremehin ketika forum bersama mahasiswa seperti musma dan tahu kemerin ketika mubes, J dihancurin, tahu gak?, tidak pernah saya temui satupun anak J ketika ikut musma….”, itulah sedikit kata-katanya. lalu saya Tanya, lah bukannya anda anak J, kok katanya disana ketika musma gak ada?, apakah anda jadi anak J ketika di masjid saja, hmhm…. ia diam.

Selanjutnya, saya bertemu dengan salah satu tokoh kampus, bisa dibilang ia merupakan tokoh utama epidode mubes ini, seperti main film ja… ha3x…… oya ia juga satu perjuangan dengan saya ngakunya, haha… namun dalam bingkai yang berbeda.

Ia berkata seperti ini, “Kalian harus melek politik, tahu kemerin J ketika mubes, J menjadi bidikan semua orang dan mau dihancurin, namun anda tahu. orang J yang jadi wakil anda, kasian melihatnya,………blabla…..”. cukup ya, tidak saya lanjutkan ungkapannya.

Saya ambil 2 sample itu untuk mewakili temen2 yang katanya”siyasi” dalam wajihah dakwah ini. Sebelumnya, saya ber Tanya ke ke tokoh kampus tuh, “ o gtu mas, lalu ketika J jadi sasaran dan hantaman semua temen2 siyasi kemana, kita kan Cuma ada satu wakil kita, itulan bliau adalah mantan pengurus JMMI, apakah ketika sidang itu,merasa terpojokan, kemana temen2 (siyasi), kan disana bnayk temn2 siyasi?, apakah Cuma melihat?”

Yah , saya yang tidak tahu kondisi dsana ketika itu dengan begoknya Tanya seperti tu, jawabnya gini, “Kondisi disana beda, kita tidak……blabla…………………..,”. cukuplah, orang politik memang suka ngomnong ya… hahaha… ya iyalah, kalo gak suka ngomong gak kan jadi politikus, hahaha…

Sebenarnya perntanyaan saya singkat, ketika moment itu, “kemana saudara2 kita yang lain,?’.
saat itu kita butuh bantuan meraka, karena kondisnya yang memaksi kita butuh bantuan mereka,.

kita tidak bisa berbuat apa-apa ketika disana, oleh karena itu kita mengharapkan bantuan temen2 wajihah yang paham tentang ini, dan saya setuju kalau anak2 J harus melek politik, karena itu urgent dan hal itu wajib. tahu semua kan manfaatnya?...

oya, kenapa ketika mubes kita tidak bisa berbuat banyak dan berharap pada temen siyasi, menurut peraturan , kita hanya diperbolehkan satu orang wakil. tidak lebih.Dan wakil J juga mantan pengurus karena semua pengurus KP dan ada masalah di dalam yang tidak bisa ditinggal karena terbentur berbagai deadline birokrasi dan waktu habis.

memang wawasan sebagian besarorang J dalam berpolitikan kurang, ya.. menurut saya wajar, karena setiap hari yang digeluti bukan politik, beda kalau ranah wajiahah yang bener politik seperti eksekutif. Namun saya juga sepakat, anak-anak J juga harus tahu mengenai politik.

Sama seperti anak eksekuitif juga harus mentoring, juga harus datang kajian dan juga harus ikut mabit. Saya tidak berharap, eksekutif yang dipegang saudara-saudara kita seperti salah satu ormek islam yang kehilangan jati diri keislamannya, sehingga semua orang meragukan embel-embel kata islam di belakang namanya.
Sekarang bukan saatnya saling menyalahkan, kita harus evalusi diri. Yang siyasi jangan menyalahkan J dan J jangan menyalahkan siyasi. Dan masalah utama hanya ada di komunikasi untuk kedua pihak.

Kita semua saling membutuhkan, JMMI saat ini membutuhkan siyasi untuk membantu di mubes ini karena yang paham benar mengenai ini ya temen2 siyasi, kerena sudah menjadi maknanya. Sama seperti pemira, temen2 siyasi juga butuj J untuk dompet masa dan yang lainnya..

saya kira udah pas.. temen2 siyasi bantu J dan temen J bantu siyasi dalam hal berbeda, karena setiap wajihah memang punya spesifikasi masing-masing, kita tidak bisa terlalu memaksakan temen2 siyasi menjadi ustad, kita juga tidak bisa memaksakan temen2 J menjadi polotikus handal. semua ada ranahnya.. tapi ya tetep semuahnya harus paham , walapun gak se ekspert oarng di bidangnya.

Itulah fungsi jamaah, saling melengkapi dan mengingatkan.

dan ini…. kita camkan baik2…
I
ngat kita adalah satu jamaah, jangan sampai pihak ketigA yang di untungkan karena permasalah kita..
Sekarang bukan saatnya melanyalahkan,
saatnya kita bersatu…

Bismillah, teman2 siyasi dan J harus banyak berkomunikasi.
Temen2 J harus mulai membuka diri dengan politik
Temen2 siyasi harus konsisten dengan dakwahnya, missal seperti jangan sampai ada 4 jenis kelamin di dunia gara-gara ketidak konsistensi kita…

Kita semua saling mengingatka ,
belum tentu anak J selalu wawasan gamanya selalu baik dan juga belum tentu anak siyasi paham poltiknya selalu benar…
semua saling mengingatkan..
mari berlomba-lomba dalam kebaikan
selamat ramadhan

mohon maaf jika kepada siapapun yang meras terakiti karena tulisan ini.
jazakumullah..
NB: tulisan curhat gaya bebas. presepsi saya pribadi, mohon diluruskan yak lo menyimpang.
Trimkasih.

7.00, Senin 25 Juli 2011
Tulisan dan pandangan pribadi,