Kamis, 29 Maret 2012

Belum Beruntung

Ini adalah contoh tulisan saya yang saya coba kirim ke salah satu media, namun kurang beruntung. saya menyadari klo tulisan ini kurang runtut, kurang nyata dan kurang to do point... ini saya kirimkan to tema gagasan dengan maksimal karekter 250, salah satu penyebab penolakannya adalah kirang sesuai dengan bahasa media yang saya tuju..


Kurikulum Belajar Gagal

Jika ingin melihat Indonesia 30 tahun yang akan datang, maka lihatlah pemuda saat ini. Sudah saatnya kurikulum di negara ini mengajarkan kegagalan kepada para calon penerus bangsa. Bukan untuk membuat negara Indonesia gagal, namun hal itu untuk menyiapkan kesiapan diri dan mental para pemuda untuk menghadapi kegagalan. Kemudian berani bangkit dan membuat prestasi baru.

Kurikulum ini harus diterapkan mulai sekolah dasar, supaya para pemuda belajar kegagalan sejak dini. Kurikulum ini bisa disisipkan di sekolah dalam bentuk kelas balajar gagal, nantinya kelas ini berisi materi dan diskusi mengenai buku-buku biografi orang sukses yang sebelumnya mengalami berbagai kegagalan, seperti kisah penemuan bola lampu oleh Thomas Edison yang sebelumnya harus 9996 kali mengalami gagal.

Kelasnya pun tidak harus berada di kelas, namun bisa lakukan di taman, dengan membuat lingkaran di lapangan, di kantin, atau dimanapun tempat yang dapat membuat siswa nyaman dan terbuka untuk menceritakan dirinya.

Setelah itu, praktiknya, kelas belajar gagal ini dapat dilakukan dengan berbagai kompetisi permainan sederhana, seperti kompetisi ekstrakurikuler yang ada sekolah. Contohnya, siswa merasakan gagal ketika kalah bermain sepak bola, merasa gagal dalam bermain catur, atau merasa gagal dalam permainan lainnya. Yang penting, kegagalan mereka tidak sampai mengakibatkan kegagalan yang bersifat fatal.
 
Selain membuat siswa tidak takut gagal, kelas belajar ini juga mengajarkan siswa mengontrol emosi sejak dini. Harapan kita semua, ketika setiap pemuda sudah terlatih dengan kegagalan dan kemudian cepat kembali bangkit, maka tidak tidak ada lagi kamus putus asa dalam pemuda Indonesia. Ayo siapkan pemuda untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.

 

Kepemimpinan adalah...

Kepemimpinan bukan hanya teori, namun membutuhkan ilmu dan aplikasi yang jalan bersama.

Kepemimpinan bukan bakat atau keturunan, namun pemimpin dibentuk dan dilahirkan dengan keringat, penderitaan, stress, pengorbanan harta, perasaan, waktu, bahkan pikiran .butuh steb by step dan bertahap, dan tidak ada yang instan (sebenarnya).

kepemimpinan juga bukan ambisi atau permintaan, namun kepemimpinan adalah amanah dan nanti pasti diminta pertangung jawaban di dunia san akhirat. yang penting sekarng kta tingkatkan kapasitas dan terus memperbaiki diri, amanah akan datang sendiri  ke kita jika memang kita mampu.''Bekerjalah, maka Allah swt, rasulNya dan manusia akan melihatnya'' (At Tawbah)

seorang pemimpin juga mampu membawa pengikut ke tujuan, dengan memberi contoh real(tauladan) dan melibatkan pengikut dalam setiap proses menuju tujuan (tujuan disni bukan hanya untuk sesaat).

Memang kondisi di lapangan tak seindah teori dan pernyataan. Minimal kita sudah punya rencana untuk melakukan yag terbaik (dari teori dan pernyataan indah). Kita cuma bisa berikhtiyar, usaha, kerja, belajar sampe notok tok, sampe kita gak bisa berbuat apa-apa. setelah itu tinggal berdoa dan tawakkal. Allah swt, rasulnya dan manusia (kalo ia jujur)  tidak hanya melihat dari hasil, namun dari niat kita yang lurus dan proses/usahanyanya.

Wallhua'alam..

(dari berbagai sumber: Al Quran, buku2 dan materi kepemimpinan, pengalaman)

Untuk Saudaraku, SC RDK 33


Bismillah..

Karena tadi tidak ada waktu untuk menyampekan, saya ingin menambahi jawaban beberapa pertanyaan temn2 sc ketika sekolah sc rdk 33 tdi. semoga bermanfaat dan barakah.

pertanyaan pertama di akh hendro , satu2nya sc ikhwan yang datang. semoga urusan temen2 yg lain dimudahkan, amin.. kira2 akh hendro bertannya seperti ini.

''Seperti kata mas erik ketika sambutan, menurut pak nuh yg kala itu jadi rektor its kan menyabutkan bahwa parameter kesuksesan jmmi dapat dilihat dari 2, rdk dan mentoring. gimna caranya menyisipkan niat supaya tetep karena allah, sedangkan kita dituntut untuk mensukseskan rdk, karena taruhanya nama baik jmmi''

ane menambahi yg disampekan, mas aris. yang disampekan mas aris udah benar n cocok, insyaAllah..

menurut ane gini akh,..

dalam sambutan ane sampekan bahwa, paramater nya memang 2 itu. dan itu paramater menurut pak nuh (rektor, sekerng mendikbut dan juga seorang manusia).tujuan ane menyampekan itu ingin menanamkan ke temen2 bahwa rdk ini penting dan tidak main2.

tapi akan lebih indah,jika yang kita tuju adalah parameter Allah. insyaAllah, Allah melihat dari kelurusan niat kita karena ingin mencari ridhonya dan cara yang benar menurut rasulNya. kita niatlkan semua karena Allah, kita berusaha semaksimal mungkin, kerja, usaha sampe notok, sampai kita tidak bisa berbuat apa2. setelah itu kita serahkan ke Allah. ''bekerjalah kamu, maka Allah, rasulNYA dan manusia muslim akan melihatmu'' (At Tawbah: 105).

kawan, smoga kita tidak melakukan amanah ini supaya birokrasi melihat bahwa panitia rdk sukses sehingga jmmi dilihat sukses, ingin dilihat ketua tpki, atau supaya dipuji.

memang tidak dalam dunia ini yang tidak ada apmrihnya, kita boleh pamprih. tapi hanya pamrih ke Allah swt.

kawan, kita hanya diwajibkan berikhtiyar kemudian bertawakkal. kita diwajibkan berikhtiyar sampa kta bener gak bisa apa2. setelah itu kawan, wajib kita yakini. yang mendatangkan oc untuk datang syuro dan bantu acara, yang mendatangkan peserta to ikut acara, yang memdermawakan para donatur, termasuk yang membuat kita semnagat dan membuat hati kita ikhlas hanya untuk mencari ridhoNya, HANYA ALLAH SWT. Allahlah yang membolak balikan hati, Allahlah yang Maha segalanya.

kawan, ketika kita berusaha hanya untukNya, sesuai sunnah rasul, berusaha maksimal mulai merencanakan, melaksanakan, mengevalusi dan seterusnya. Allah akan memberikan kesuksesan acara ini, tidak hanya didunia, tapi menjadi amak jariah dunia dan akhirat, amin..

sedangkan bonusnya, rdk 33 sukses, rdk 33 n jmmi kinerjanya akan dilihat baik, orang akan mempercayai jmmi, amanah ini akan menjadi kenangan manis 20 tahun yang akan datang, menambah link dan jaringan kita, menambah pengalaman kita, dapat ilmu bnyak dan lain2... insyaAllah temen2. itu semua bonusnya. termasuk penghargaan dari rektor dsb, itu semua adalah bonus dari Allah untuk temn2 sc rdk nanti.. hadiah utamanya. ridho Allah, amin..

insyaAllah.

ke2,

pertanyaan ke2 dari akhwatnya ''Bagaimana caranya mengajak dan menyakinkan orang lain, supaya mempunyai niat dan semngat yang sama dengan kita?''

kuncinya ada di komunikasi, bagaimana ia mau jika ia tidak tahu, bagaimana ia datang jika ia merasa tidak akan mendapatkan apa-apa. saya yakin, pertanyaan. '' apa yang saya dapatkan jika saya ikut ini, apa yang saya dapat jika saya menjadi ini''. secara manusiawi normal jika kita atau orang lain mempertanyakan itu, yang penting dengan komunikasi kita yakin kan, selain kita yakinkan bahwa  mereka akan mendapatkan yang dituju.kita wajib mengajak meluruskan niat mereka. jika mereka mendapat yang dituju mak a alhamdulillah, jika belum mungkin Allah mengantinya suatu saat ini.

Konkrit cara membanguan komunikasi yakni, dengan melakukan pendampinga terhadap oc, boleh dikatakan mentoring oc rdk, mentornya boleh dari ph atau sc, intinya dalam mentorong sc ini kita bangun komunikasi sehingga mereka faham dan melakukan seperti yang kita lakukan, mempunyai niat seperti kita dan bersemangat seperti kita. dalam mentoring kita juga bisa memantau amal yaumi oc yang sudah menjadi haknya  serta memantau kondisi beban tiap oc pada saat itu.

mmbangun komunikasi dengan sponsor dan donatur juga perlu. mungkin bisa dilakukan silatuhmi secara lembaga ke bidikan sponsor utama rdk 33, maupuam donatur  seperti pak muslim. temen2 rdk bisa bersma depertmen kelambagaan silatuhmi ke target yang dituju, atau mungkin cuma temen2 rdk juga tdak maslah yang penting ada pembrithuan ke ph jmmi, karena mau g mau rdk tetep bagian dri jmmi.
 
terakhir, ingin mengutib kata2 sc rdk 32 ''bukan RDK atau JMMI yang harus diagung-agungkan.. tapi seruan ke Allah yang wajib kita utamakan, seruan dengan santun, tepat sasaran, pas waktu dan tempatnya. RDK dan JMMI hanyalah sarananya. 90% Kesuksesannya ada di malam hari dengn tahajud dan air mata kita,  sedangkan 10% pendukungnya ada di aktivitas kita di siang hari... insyaAllah

Wallahu'alam

Jumat, 24 Februari 2012

Pilih Mana?

Tulisan ini pernah dimuat di http://its.ac.id/berita.php?nomer=8394

Pemuda keren, tampan, pintar dan ramah itu bernama Paijo, asli Surabaya. Suatu ketika ia hendak berkunjung ke saudaranya di Jakarta dengan menggunakan pesawat. Dalam perjalanan, ia mendapat jatah tempat duduk di samping ibu tua berumur 60 tahunan.

Jiwa ingin tahunya ternyata mengalahkan rasa malunya. Dalam perjalanan tersebut, dengan santai ia bertanya ke ibu disampingnya. Pertama ia malu, namun beberapa saat kemudian situasi berlangsung cair.

''Mau kenapa ibu?,'' tanya Paijo dengan ramah.
''Ke Singapura dik, tapi transit dulu di bandara Soekarno Hatta,'' jawab sang ibu.
''Ke Singapura ada acara apa bu? kok sendirian?,'' kata Paijo penasaran.
''Ke rumah anak,'' jawab sang ibu.

Setelah itu, perbincangan berlangsung akrab, Ibu tersebut menceritakan ke Paijo bahwa salah satu anaknya menjadi dosen di Singapura, dan kesanalah ia hendak berkunjung. Ia juga menceritakan bahwa saat  ini ia mempunyai empat orang putra dan suaminya telah meninggal 20 tahun lalu.

Karena Paijo terus bertanya, akhirnya ibu  tersebut menceritakan keberadaan semua anaknya. Anak yang kedua saat ini menjadi dokter di salah satu rumah sakit terbesar di Surabaya. Anak keduanya menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia dan anak terakhir adalah dosen di perguruan tinggi di Singapura tersebut.

Paijo merasa ada yang janggal, kenapa anak pertamanya tidak disebutkan. Karena jiwa ingin tahunya yang besar, Paijo menanyakan keberadaan anak pertama sang ibu. ''Oh ya bu, lalu anak ibu yang pertama dimana sekarang,'' tanyanya.

Sang ibu tidak langsung menjawab, ia diam sejanak sambil matanya menerawang ke langit-langit pesawat. Kemudian sambil terseyum tipis sang ibu berkata, ''Ada dik, ia seorang petani mungkin sekarang sedang berada sawahnya,'' jawab sang ibu.

Melihat jawaban tersebut Paijo meminta maaf kepada sang ibu jika pertanyaanya membuat ibu tersebut sedih. Namun dengan nada tegas ibu tersebut berkata, ''Tidak apa dik, saya tidak sedih, malah saya merasa paling bangga pada anak pertama saya tersebut,'' tegas sang ibu.

Kemudian sang ibu menceritakan, sejak suaminya meninggal. Tulang punggung keluarga diambil alih oleh anak pertama. Ia melanjutkan merawat sawah peninggalan ayahnya. Dan dari keringat si anak pertama tersebut, sang ibu dapat membiayai anak-anaknya yang lain sampai lulus perguruan tinggi dan menjadi seorang sarjana.

Tidak dipungikiri, kesuksesan ketiga adiknya tersebut tidak lepas dari banting tulang si anak pertama yang kini tetap menjadi seorang petani.  Dan kisah tersebut adalah sebuah kisah nyata yang diceritakan teman saya ketika diskusi mingguan.

Hampir semua orang yang pernah saya tanya menganai cita-citanya kedepan, mereka menjawab ingin sukses, ingin menjadi juara ini dan itu, ingin jadi pengusaha atau bahkan ada yang ingin jadi Presiden. Tidak salah itu semua, dan memang benar.

Suatu hari ada teman saya bercerita, ada tiga macam kata yang menjadi tujuan seseorang yakni juara, sukses dan kebermanfaatan. Ketiga kata tersebut beririsan namun antara satu dengan yang lain mempunyai makna realita yang berbeda. Mana yang akan kita utamakan?

Kita bisa menjadi juara, namun dalam kondisi nyata banyak seorang juara yang tidak sukses dan tidak memberi kebermanfaatan. Karya-karya juaranya hanya dimuseumkan hingga waktu membuat orang lain lupa. Kita bisa juga  sukses, namun banyak orang sukses yang hanya untuk dirinya sendiri. Boro-boro memberi manfaat orang lain, malah membuat orang lain susah.

Mark Zuckerberg,  founder dan pendiri dari Facebook yang sekarang menjadi miliarder termuda di Amerika bahkan di dunia. Tahukah kita, Facebook sebenarnya dibuat sebagai situs jaringan pertemanan terbatas pada kalangan kampus pembuatnya, yakni Mark Zuckerberg. Sebagai mahasiswa Harvard University, ia saat itu mencoba membuat satu program yang bisa menghubungkan teman-teman satu kampusnya.

Karena itulah, nama situs yang digagas oleh Mark adalah Facebook. Nama ini ia ambil dari buku Facebook, yaitu buku yang biasanya berisi daftar anggota komunitas dalam satu kampus. Pada sejumlah kampus dan sekolah di Amerika Serikat, buku ini diberikan kepada mahasiswa atau staf fakultas yang baru agar bisa lebih mengenal orang lain di kampus bersangkutan.

Intinya, misi awal Mark bukanlah menjadi sorang milyader ataupun menjadi seorang juara kompetisi. Ia hanya ingin memberikan manfaat ke orang sekitarnya supaya dapat berhubungan tanpa ketemu secara langsung.

Sekarang tinggal kita, mau pilih yang mana, seorang juara, seorang sukses atau seorang yang bermanfaat? Semua pilihan ada ditangan kita.

Akhirnya, seperti  istana megah tanpa penghuni, apapun kita, apakah itu tukang sapu, mahasiswa biasa, juara olimpiade, mahasiswa beprestasi, pimpinan organisasi mahasiswa, Rektor atau bahkan Presidenpun akan terasa sia-sia jika hanya menjadi kebanggaan diri sendiri tanpa bisa memberi kemanfaatan pada orang lain.

Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan jejak.
Jejak langkah kaki
Jejak langkah mimpi
Jejak langkah setiap sisa yang kita tinggalkan


*) terinspirasi setelah  diskusi dengan penulis buku ''Kuliah atau Kuli Yah?''  Satria Nova 

Nomor 1

Tulisan ini pernah dimuat di http://its.ac.id/berita.php?nomer=8404

Ada apa dengan nomor 1? Gara-gara nomor itu rasa malu hampir kehilangan rasanya, rasa kasih hampir tiada, sayang bisa jadi benci dan bahkan  kawan bisa menjadi lawan. Sehebat itukah nomor 1?

Namun, gara-gara nomor 1 juga, perpecahan bisa menjadi persatuan, kebencian bisa menjadi kasih sayang dan juga lawan bisa menjadi kawan. Memang nomor tersebut ibarat magnet yang membuat semua orang tertarik kepadanya. Yang pasti, tertarik pasti ada sebabnya, yakni gaya tarik itu sendiri.

Seperti huruf, banyak orang setuju bahwa huruf memiliki arti bahkan doa. Itulah sebabnya tak salah jika sering muncul ungkapan ''Nama adalah Doa''. Lalu bagaimana dengan nomor?

Memang bagi sebagian orang, nomor tidak bermakna apapun. Namun, dalam dunia Feng Shui, salah satu aliran spiritual di China, nomor 1 memiliki makna yang khusus dan memiliki pengaruh dalam kehidupan kita.

Menurut aliran tersebut, nomor 1 disebut bintang uang atau nomor yang selalu menguntungkan. 1 juga berarti nomor air yang bisa diartikan sebagai uang.

Dalam masyarakat jawapun, nomor 1 memiliki makna yang dalam. Anak pertama pada masyarakat jawa disebut anak sulung dan orang jawa sangat menaruh harapan besar pada anak sulung ini. Selain itu, nomer 1 dalam masyarakat jawa melambangkan  sifat matahari, ego, bijaksana, pemimpin, pioner dan ide.

Lepas dari semua itu, nomor 1 ibarat magnet, seperti uraian sebelumnya. Semua orang berebut untuk men
dapatkan nomor itu. Entah apa motivasinya, semua dari kita pasti ingin menjadi nomor 1. Tidak ada yang mau dinomorduakan, apalagi dinomortigakan.

Nomor 1 memang sakral.

Hakekatnya, setiap diri kita adalah nomor 1. Apakah itu nomor 1-nya diri sendiri, nomor 1-nya  kelompok bakkan sampai nomor 1 dalam skala besar. Seperti nomor 1-nya  komunitas masyarakat. Namun, yang penting dari semua itu, kenomorsatuan kita akan diminta pertangung jawaban.

Kalau katanya Ki Hajar Dewantara atau biasa dikenal KHD memberi pesan bahwa hakekat nomor 1 itu ada tiga yang kemudian beliau tulis dalam bahasa Jawa. Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso dan Tut Wuri Handayani. Intinya,  si nomor 1 harus memiliki ketiga karekter ini jika ingin benar-benar menjadi teladan. Bukankah nomor 1 teladannya nomor-nomor selanjutnya?

Sekarang, kita coba terjemahkan arti nomor 1 menurut KHD itu. Pertama,  Ing Ngarso Sun Tulodo. Ing ngarso artinya  didepan, Sun berasal dari kata Ingsun yang artinya saya, Tulodo berarti tauladan. Jadi kalau kita pahami dari arti bahasanya, makna Ing Ngarso Sun Tulodo mengandung arti yang di depan harus mampu memberikan tauladan bagi orang-orang disekitarnya.

Kedua, Ing Madyo Mbangun Karso. Ing Madyo artinya di tengah-tengah, Mbangun berarti membangun atau membangkitkan dan Karso mengandung arti  kemauan atau niat. Jadi kalau digabung, seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu membangun atau membangkitkan semangat dan memberikan motivasi.

Ketiga, Tut Wuri Handayani, Tut Wuri artinya mengikuti dari belakang dan handayani berati memberikan dorongan moral atau dorongan semangat. Sehingga kalau digabung, Tut Wuri Handayani ialah seseorang yang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang.

Jadi secara tersirat Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani berarti figur seseorang yang komplit. Disamping menjadi panutan, juga harus mampu jadi penggugah semangat dan memberikan dorongan moral dari belakang agar orang-orang disekitarnya dapat merasakan situasi yang baik dan bersahabat .

Semoga, apapun kita, ketika nomor 1 singgah pada kita. Agar warisan pendahulu kita tidak hanya menjadi simbol belaka.

Akhirnya, setiap nomor 1 yang kita pegang, suatu saat nanti pasti lepas juga. Dan setelah itu tinggal meminta LPJ-an (Laporan Pertanggung Jawaban,red), kan? Entah itu saat ini, nanti atau bahkan suatu saat nanti yang kita tidak tahu kapan.

Seperti barang titipan, yang punya akan mengambil kembali
Minimal, kata tanya ''untuk apa'' akan hinggap pada diri yang dititipi ini

Wong Tuwo

Tulisan ini pernah dimuat di http://its.ac.id/berita.php?nomer=8673

Ia  bernama Abdul khamid, warga asli Pujon, salah satu kecamatan di Kabupaten Malang. Kesehariannya bekerja sebagai tukang potong rambut di salah satu stan buatan di sudut pasar baru Pujon. Ketika menikah 10 tahun lalu, ia berumur 30 tahun, tergolong telat untuk ukuran pemuda desa sepertinya.

Satu tahun ia menikah, ternyata ia belum dikarunia anak. Ia dan istrinya pergi ke dokter untuk memeriksakan kesuburan dia dan istrinya. Pak Khamid dikatakan subur, namun dokter yang memeriksa istrinya mengatakan, saluran tubavalopi sang istri yang befungsi sebagai jalan sel sperma ke indung sel telur tidak berfungsi. Si dokter menvonis bahwa hampir tidak mungkin pasangan ini mempunyai anak.

Ternyata, vonis dokter tidak membuat pak Khamid putus asa atau berpikir untuk menikah lagi. Selain karena cintanya ke istri, pak Khamid merasa belum memberikan usaha optimal. Beliau berusaha kesana kemari untuk berobat, mulai dukun, minta doa orang alim, bahkan berbagai saran yang diberikan keluarganya seperti minum obat ini, obat itu ia dilakukan. Namun, istrinya tetap tidak hamil.

Sampai suatu saat, pak Khalid ke Surabaya bersama sang istri. Ia bertemu dengan seorang saptam sebuah pabrik di Surabaya. Ia bercengkrama dengan saptam tersebut, satpam menceritakan mengenai keluarganya yang mempunyai nasib sama seperti keluarga pak Khamid. Satpam tersebut mengatakan, saudaranya berdoa melalui perantara sholat malam dan puasa senin kamis. Alhasil dengan perantara ibadah tersebut, keluarga tersebut dikaruniai keturunan.

Setelah mendengar cerita tersebut, pak Khalid dan istrinya mencoba melakukan seperti yang disarankan sang satpam. Alhasil, berkat rahmat Yang Maha Kuasa, akhir tahun 2009 istrinya hamil. Dan tepat pada usia pernikahan kesepuluh sekitar bulan April 2010, Istri pak Khamid melahirkan anak lelaki pertamanya. Anak yang ia tunggu selama 10 tahun.

Memang, itu hanya satu kisah dari sekian banyak kisah pengorbanan seorang yang benar-benar ikhlas. Saya kira, dari semua manusia, tidak ada yang lebih ikhlas dari orang tua kita. Tiga tahun lalu, ketika saya hendak meninggalkan rumah untuk merantau ke kampus ini. Pesan perpisahan yang diungkapkan ibu saya bukanlah ''Cepat lulus ya lhe ndang cari duit'' atau ''Nanti kalau lulus, ndang cari kerja dimana''. Namun beliau berkata ''Jangan lupa makan lhe''.

Ada sebuah cerita menarik mengenai pohon apel yang mungkin sering kita dengar. Ada sebuah pohon apel yang hidup bersama anak lelaki yang senang bermain di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya dan tidur di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel.

Ketika besar ia meminta pohon apel memberikan buahnya untuk ditukar mainan, pohon apel memberikan dengan senang hati karena lama tidak jumpa. Namun setelah itu ia pergi. Ketika anak itu tumbuh dewasa ia kembali, pohon apel sangat senang. Kemudian, anak dewasa itu meminta dahan ranting untuk membangun rumah bersama keluarganya, pohon apel itu tetap memberikan apa yang dimintanya. Namun sang anak kembali meninggalkan dan membuat pohon apel kembali sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel bersuka cita. Namun si anak terlihat sedih dan kemudian ia meminta batang pohon untuk dibuat kapal supaya dapat berlibur. Lagi-lagi pohon apel itu memberikan dengan senang hati. Dan setelah itu anak itu berlayar dan meningglkan si pohon apel.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. ''Maaf anakku, aku sudah tak memiliki buah apel, ranting atau batang pohon lagi untukmu," kata pohon apel itu.

''Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang, aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu,'' kata anak lelaki.

''Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang,'' ujar Pohon Apel.

Anak lelaki itupun berbaring, pohon apel sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air mata.

Ya, itulah orang tua kita.

Jadwal hari ini: telpon orang tua 

Care

Tulisan ini pernah dimuat di http://its.ac.id/berita.php?nomer=8713

Rasa kepedulian (memberi perhatian) sangat erat dengan kepemimpinan, saya menggagap care dan leader bagaikan  pinang dibelah dua, artinya kedua hal tersebut sangatlah berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain.

Saya berani mengatakan seperti itu,  setelah mengamati dan menelisik lebih dalam kebiasaan beberapa pemimpin besar di zamannya. Mungkin kita pernah dengar cerita Umar bin Khattab yang tiap malam keliling negerinya untuk melihat kondisi rakyatnya, atau mungkin pernah mendengar Sidharta Gautama yang rela keluar istana (kebiasaan langka yang dilakukan bangsawan ketika itu) untuk melihat kondisi real rakyatnya, bahkan setelah itu ia rela tak kembali ke rumah megahnya karena ingin merasakan bagaimana menjadi seorang rakyat jelata.

Masih banyak lagi kisah perhatian seorang pemimpin ke rakyatnya, seperti kisah Nabi Muhammad yang rela setiap pagi menyuapi makan seorang nenek tua, walapun ia selalu menghina dan menghujatnya, ataupun kisah seorang salah satu Presiden negara di Timur Tengah yang setiap pagi menyalami setiap pegawai istana yang ia temui. Dan ratusan kisah lainnya yang menggambarkan perbandingan linier antara pemimpin dan kepedulian, artinya semakin besar pemimpin seharusnya semakin memperhatikan hal-hal yang sangat kecil.

Saya menemui dua hal kecil kebiasaan seorang pemimpin besar yang mungkin luput dari perhatian kita, yakni memanggil anak buahnya dengan namanya dan mengucapkan terima kasih. Ya, memang kedua hal itu sepele. Namun setelah saya telisik lebih dalam apa hubungannya memanggil nama seseorang dan ucapan terima kasih dengan loyalitas dan kesetian, saya menemukan bahwa kedua hal tersebut saling mempengaruhi.

Penelitian yang dipublikasikan di Psychological Science melihat efek ucapan terima kasih terhadap kekuatan komunal, tingkat tanggung jawab yang dirasakan seorang teman atau anak buah kepada yang lain. Dan hasilnya,  ucapan terima kasih menguatkan hubungan dan membuat orang percaya dan puas dengan orang yang mengucapkannya.

Selan itu, Hasil riset menunjukan, mengucapkan terima kasih, tak hanya membantu orang yang menerima ucapan itu, namun juga yang mengucapkannya. Ucapan itu juga mampu memperbaiki dan meningkatkan kemampuan dalam bersikap saat menjalani sebuah hubungan sosial.

Lalu bagaiamana dengan memanggil seseorang dengan namanya. Seorang psikolog besar, Daniel Carnegie berkata, nama seseorang bagi seseorang yang memiliki nama tersebut adalah kata-kata yang paling merdu dan indah di telinga orang tersebut.
 
Selain membuat orang lain senang, ada efek balik pada diri kita. Dengan memanggil nama tersebut, maka akan membuat hati kita nyaman untuk berbicara dengan orang tersebut dan sadar atau tidak maka orang tersebut akan cepat akrab dengan kita.

Terakhir, mengutip salah satu kalimat seorang guru besar pada zamannya, ketika muridnya bertanya; ''Wahai Guru, berilah pesan kepadaku jika nanti aku menjadi orang besar?.''

Dengan bijak sang guru menjawab, ''Wahai anakku, sesungguhnya sesuatu yang besar dimulai dari yang kecil, jangan lupakan itu''.