Sabtu, 13 Juni 2020

Lubang Paku

Dari kisah Irfan herlambang

ada anak yg suka marah dan menyakiti orang lain
anak itu sadar, kemudian bilang ke bapaknya, saya suka marah dan menyakiti orang lain

bapaknya bilang, kalau marah, paku pager di belakang, satu marah, satu paku.
pernah sehari maku 100 paku, 50, 30 paku
sampai pada hari tdak ada yang dipaku

kemudian anaknya cerita dengan bahagia hari ini tidak dipaku
ayahnya bilang, kalau gak marah satu hari cabut satu paku

anak: liat pa, sudah tidak ada paku lagi
ayah: nak apa yang tersisa setelah paku dicabut
anak: tersisa pager yang bolong
ayah: kadang kalau kita berkata kasar , menyakiti orang lain. maka akan menyisakan lubang di hati orang lain
yang bekas itu belum tentu bisa hilang

oleh karena itu, kenapa kita bermaaafan ketika menjelang ramadhan, ketika ramadhan dan pasca ramadhan
semoga hal itu dapat menghilangkan lubang di hati dan mengobati hatinya

karena ketika sakit hati sudah mulai ada, sulit mengobati

ada doa yang diajarkan untuk diperbanyak ketika ramadhan, terutama 10 hari terakhir

Allahumma innaka `afuwwun tuhibbul `afwa fa`fu `annii
"Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Pemurah, dan menyukai memberikan maaf, maafkanlah aku"

wa'fuani kalau sendiri
wa'fuana kalau bersama

Allah swt yang maha membolak balikan hati
jangan berputus asa dari rahmat Allah

semoga Allah mengampuni kita dan orang-orang memaafkan kita

Rabu, 10 Juni 2020

Ramadhan COVID

Saya menyebutnya bukan melawan Covid, lebih tepat mungkin berdamai dengan Covid. Ya, karena berdamai biasanya membuat hati lebih tenang.

Mungkin itu yang pas buat pengurus Muslim Student Association (MSA), organisasi mahasiswa muslim internasional di kampus National Cheng Kung University (NCKU) dalam menghadapi ramadhan tahun ini. 

Sejak covid menyerang januari lalu, kita semua tahu yang terjadi selanjutnya. Saya amati ada tiga jurus berdamai ala panitia ramadhan MSA tahun ini.

Jurus pertama, iftar takeaway, mereka menyediakan makanan buka puasa dalam plastic yang isinya kotak teh susu, kurma dan snack. Biasanya panitia standby di lokasi terbuka yang dekat asrama mahasiswa sejak pukul 17an, kemudian yang mau tinggal datang, ambil dan pergi. Saya belum pernah mencobanya, hanya melihat publikasi di media sosial MSA dan postingan foto ketika pembagian di group Line, medsos yang saya baru familiar ketika disini.

 Panitia bersiap menunggu jamaah

Namun di balik sebungkus plastik dan isinya itu, ada perjuangan para panitia memburu kurma yang tidak mudah untuk ditemukan disini, angkat-angkat box belanjaan ditengah panasnya summer dan membawanya menggunakan motor mirip kayak orang mau pindahan, sampai bungkusi ke dalam plastic menjadi siap saji seperti itu. Intinya angkat topi buat panitia.


Makanan yang dibagikan

Jurus kedua, tadarrus online, dibuka dengan kultum dari salah satu peserta dan perharinya punya target satu juz. Berapapun pesertanya, ngajinya gantian sampai dapat satu juz. Salah satu peserta menjadi tasmi’ atau pembetul jika ada ucapan yang salah. Ini online dalam group Line dan terbuka siapapun yang mau. Biasanya dimulai pukul sembilan malam sampai selesai.

Jurus ketiga, kajian online setiap minggu sekali. Sudah berjalan dua kali melaluia media sosial MSA, katanya ini akan berjalan setiap pekan sekali selama bulan ramadhan ini.

Mungkin mereka punya jurus berdamai lainnya atau terus sedang mencarinya, terutama buat idul fitri. Kita tunggu saja ide brilian ditengah himpitan ramadhan Covid tahun ini. Semoga panitia tetap ikhlas dan dapat pahala amalnya.

Apakah NCKU tidak mendukung kegiatan islam disini? mereka sangat mendukung. Tahun lalu, NCKU menyiapkan tempat dengan kapasitas 300 orang untuk kegiatan ramadhan satu bulan penuh, bahkan Rektor dan pimpinan NCKU datang ketika idul fitri. Ya sekarang karena Covid saja, wong mushola saja sudah di tutup sejak tiga bulan yang lalu.

Beda cerita dengan jamaahnya. Ada jurus berdamai lainnya yang dimiliki mereka, jamaah tetap shengli, shengli adalah nama asrama mahasiswa yang ada musholanya, yang ditutup tiga bulan lalu itu. Mereka menjadi jamaah pemburu prayer room yang lebih kecil di department-depertement, kalau prayer room satu ditolak, cari prayer room yang lain, begitu seterusnya. Tapi semangatnya itu lo, jempol empat.

Mereka ini sebenernya bukan orang biasa, coba saja gabung kalau tidak percaya. Mereka ini kalau di Indonesia adalah dosen di kampus-kampus Indonesia yang saat ini sedang tugas belajar. Ada juga yang alumni tim Sapu Angin ITS yang terkenal itu. Ada yang S1 di Belanda, S2 di Inggris, kemudilan lanjut S3 disini, dan banyak lagi prestasi mereka. Intinya mereka bukan mahasiswa biasa.

Ramadhan covid tahun ini memang beda, namun kualitasnya tetap sama. Bahkan lebih. Tergantung bagaimana kita saja.