Minggu, 16 Agustus 2020

Koin 1 NT

Saya ditanya teman saya, berat mana kapal dan koin 1 NT?

Jawaban pertanyaan ini adalah sebuah pertanyaan.

Kenapa pesawat bisa terbang (terangkat ke langit)?

Hampir sama dengan kapal, kenapa bisa terapung?

Kalau pesawat bisa terbang karena gaya angkat pesawat lebih besar dari berat (gaya) pesawat tersebut.

Ketika naik pesawat, coba amati bagian sayap. Ketika take off dan proses menaikan pesawat ke langit, bentuk sayap cenderung melengkung ke bawah. Supaya kecepatan di bagian atas pesawat lebih tinggi dari bawah, sehingga tekanan di bawah lebih besar dan pesawat tertekan ke atas (naik ke langit).

Insinyur pesawat terbang sudah mendesign, dengan luas penampang sayap sekian, sudut kemiringan moncong sayap sekian, kecepatan pesawat sekian berapa gaya angkat yang dihasilkan, kemudian dibandingkan dengan berat pesawat dan semua muatannya.

Berat lesawat tidak boleh berat lebih besar dari gaya angkatnya.

Sama kayak pertanyaan, berat (gaya) mana koin 1 NT dan kapal, ya berat kapal yg ribuan ton itu, 1 NT beratnya tidak sampai 1 ons.

Kok kapal ndak tenggelam? Koin 1 nt tenggelam?

Karena gaya angkat kapal lebih besar dari berat kapal (dan muatannya). 

Gaya angkat didapat dari volume kapal yang tercelup air dikali percepatan gravitasi  dikali masa jenis air dimana kapal berada, kemudian berlaku hukum archimedes.

Kapal bisa tenggelam?

Bisa, kapal tenggelam jika, muatannya lebih dari kapasitasnya (gaya angkat lebih kecil dari gaya berat).

Mirip dengan pesawat, kalau kelebihan muatan ya gak bisa terbang.

Hikmahnya apa,

1. Bukan kecil besarnya, tua mudanya, namun kapasitas dan isinya yang lebih penting. Lebih muda namun kalau berisi, kita yang lebih tua wajib mendengarkan. Yang muda tetap wajib menghormati yang tua.

2. Kita semua sepakat dan tahu, semua yg berlebihan itu tidak baik.

3. Allah sudah mendesign semuanya dan ada kapasitas maksimalnya, jadi kadang-kadang kita belum sampai batas maksimal kapasitas kita, namun sudah menyerah. 

Lalu, sampai apa batas kapasitas kita?

Syekh Abdullah Al Azzam mencontohkan kapasitas maksimal dalam berlari, adalah ketika berlari sampai kita pinsan, itulah batas kemampuan kita berlari.

"Berusaha dengan semaksimal mungkin, sampai Allah menghentikannya" itulah definisi kapasitas maksimal kata beliau.

Senin, 03 Agustus 2020

Kapal Induk

Teman saya bertanya, kenapa Indonesia tdak punya kapal induk?

1. Filosofi kapal induk itu adalah, pangkalan militer darat yg terapung. Seperti, hotel terapung (kapal pesiar), rumah sakit terapung (punya TNI AL, Unair, atau Pemkab di daerah kepulauan), dermaga terapung, Pembamgkit listrik terapung, tempat pengolahan limbah terapung, sekolah terapung, dll.

Sama kapal induk juga demikian, sehingga kalau untuk Indonesia yang banyak memiliki pulau kecil (dan gede) yg mengelilingi wilayahnya, Indonesia sebenernya tidak butuh kapal induk, karena bisa membangun pangkalan militer di pulau yang dipunyai.

BEDA, kalau indonesia ada misi mau menguasi dan menjadi polisi dunia, seperti Amerika misalnya, kapal induknya kebanyakan di luar negaranya, coba searh digoogle armada amerika (fleet) jumlahnya 8 atau 9, saya lupa pasti. Itu adalah pangkalan militer Amarika di luar wilayah Amerika dan menggunakan kapal induk, selain juga wilayah darat di wilayah negara lain. Tujuannya untuk apa, untuk bergaining posisi.

Hampir sama dgn negara-negara lain yang punya kapal induk, alasan utamanya 2 itu. 1. Karena tidak ada wilayah darat yang cukup untuk menjadi pangkalan militer udaranya 2. Kepentingan "penguasaan atau posisi"

2. Mahal, butuh uang banyak dan teknologi yg besar (maju). Sumber google referensi dari kapal US (belum tahu ukurannya), harga untuk 1 kapal induk Rp. 120 T, anggaran kementrerian pertahanan RI 2020  adalah 90 an T (cek angka pastinya).

Kalau mau buat kapal induk, semua orang di kementerian pertahanan termasuk semua orang d TNI, baik AD AU AL, Harus puasa setahun. Plus mash utang...

3. By konspirasi dari the real penguasa dunia

Tertekan

Kata rumus di Kuliah Fisika, P= F/A
P adalah tekanan, F adalah gaya dan A adalah luas penampang

Tekanan sebanding dengan gaya, kalau kita sedang tertekan, bisa jadi karena kita banyak "gaya" atau "gaya" kita lagi gede.

Namun ada solusinya,
Karena tekanan berbanding terbalik dengan luas penampang.

Maka kalau jiwa kita sedang tertekan (tekanan besar), artinya kita sedang sempit (hatinya), maka untuk memperkecil tekanan, luaskan atau lapangkan jiwa, hati dan dada kita.

Doanya, kayak doa nabi Musa ketika hendak bertemu firaun.

Musa berkata, ‘Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii’ [Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS. Thoha: 25-28)

Minggu, 02 Agustus 2020

Nelayan


Kenapa nelayan berangkat melaut pada malam hari?

Karena pada malam hari kapalnya bisa lebih cepat mencapai laut, dengan usaha yang sama jika dilakukan pada siang hari.

Karena pada malam hari tekanan udara di darat lebihh tinggi dari pada di laut, sehingga angin bergerak dari darat ke laut. Sehingga arah angin searah kapal.

Sebaliknya, nelayan pulang ke darat pada pada pagi atau siang hari.

Hukum alam atau sunnatullah ini terjadi pada lokasi yang sama.

Sama seperti kehidupan kita, pada lokasi yg sama kita kadang-kadang punya uang banyak, kadang punya uang dikit, kadang dimarahi profesor, kadang dipuji profesor, dst

Tinggal gimana cara kita memanfaatkan saja, kayak nelayan tadi.

Kalau dimarahi profesor bersabar, kalau puji, kita bersyukur ke Allah.

Persis seperti yang disampekan Pak Arsanto dalam majelis ilmu riyadus sholihin di fkkbwit

Kalau mendapat nikmat bersyukur, kalau mendapat ujian bersabar.

Jadi semua tergantung kita bagaimana memandang dan merespon.