Rabu, 01 Agustus 2012

Beginilah Mentoring dengan Adik-Adik

Bersama Adik Mentoring Pena Bangsa

Mentoring Pena Bangsa? Ya, program ini merukan salah satu bentuk penyaluran dana dari donatur YDSF. Mentoring menurut artinya adalah lingkaran. Sesuai artinya mentoring pena bangsa adalah membuat lingkaran-lingkaran kecil untuk mengaji bersama, transfer ilmu dari kakak pembina, konsultasi antara adik binaan serta kadang-kadang juga curhat adik-adik ke kakak pembina.

Biasanya dalam satu kelompok mentoring terdapat lima sampai sepuluh adik yang dibina. Mereka adalah putra dari keluarga kurang mampu di daerah Surabaya. Sebagai contoh, kelompok mentoring saya yang berada di daerah Klampis Ngasem. Dari enam adik binaan yang saya pegang, rata-rata pekerjaan orang tua mereka adalah buruh toko, tukang cuci, supir dan bahkan ada yang serabutan, kadang kerja , kadang tidak.

Saya pernah beberapa kali berkunjung ke rumah adik-adik. Kondisi rumah mereka sebenarnya juga tidak layah ditempati. Sebut saja keluarga si-A, dengan ibu sebagai tukang cuci dan ayah buruh toko dan harus menghidupi 4 orang anak, anak yang tertua adalah adik binaan saya, saat ini kelas 3 SMP. Umurnya 15an tahun. Mereka menempati rumah ukuran 2 meter kali 5 meter, dibagi menjadi 3 ruang. 1 kamar tidur utama yang juga ruang serga guna, 1 kamar tidur dan sisanya dipakai untuk memasak, tempat kandang ayam dan sebagainya.

Akhirnya kondisi  demikian membuat si-A harus nyambi jadi loper Koran. Ketika saya Tanya, ‘’Apa cita-cita sampeyan dik?’’. Dengan tanpa rasa takut ia menjawab. ‘’Saya pingin jadi pemain sepak bola mas’’. Saya tersenyum, ada perasaan bangga. Bangga karena sosok seperti inilah yang nantinya menggantikan generasi saat ini. Sosok yang penuh percaya diri, ditengah semua keterbatasanya.

Saya juga tanya ke adik binaan yang lainnya. Namanya Abdul Fattah, ketika saya Tanya. “Kalau Fattah, suatu saat nanti mau jadi apa?’’. Dengan percaya diri ia menjawab, ‘’Saya pingin jadi guru kak. Kemudian saya Tanya lagi, ‘’Guru apa dik?’’. Ia menjawab, ‘’Pokoknya guru kak, gak papa SD, SMP atau SMA, pokoknya guru’’. Saya penasaran, lalu saya tanya, kenapa kok guru, bukan yang lain. Ia menjawab, ‘’Saya pingin semua anak Indonesia jadi orang pinter. Selain itu saya juga ingin ngebahagiain orang tua.’’ Saya hanya diam, manggu-manggut sambil tersenyum.

Beda dengan Haris, siswa kelas 1 SMK 10 ini ketika saya tanya mau jadi apa. Ia menjawab, ‘’Ingin jadi pengusaha yang sukses kak’’. Kemudian saya tanya lagi, ‘’pengusaha apa dik?’’. Ia menjawab, ‘’ Pokoke pengusaha mas,’’. Kembali saya tersenyum.

Kadang-Kadand Curhat
Mentoring kita lakukan setiap hari  minggu, pukul 15.30 samapai 17.00, di mushola Husnul yaqin, Klampis Ngasem gang tembusan. Seperti biasa, setelah anggota mentoring terkumpul. Mentoring dimulai dengan tilawah atau belajar membaca iqra bagi yang belum bisa membaca Al Quran. Kemudian dilanjutkan dengan infaq rutin untuk dimasukan ke dalam kas mentoring, uang ini yang nantinya biasa kita gunakan untuk makan barang atau kadang-kadang menjenguk saudara kelompok yang sakit. Sebenarnya, saya mau menanamkan sikab dermawan kepada mereka, saya yakin dan saya yakinkan ke mereka bahwa, tidak harus nunggu kaya untuk berinfaq.

Kemudian dilanjutkan tausiah dari adik-adik, dan ini dilaakukan bergiliran setiap minggu. Dulu ketika awal mentoring, ketika diminta untuk memberi tausiah atau diminta cerita sembarang yang ada kesan dan hikmahnya, luar biasa, semua rebutan tidak mau. Alhamdulillah, setelah hampir satu tahun melakukan mentoring, sekarang mereka sudah mau menampilkan diri, tausiah atau cerita bergiliran dapat berjalan.

Setelah itu biasanya pemberian materi, kadang-kadanng saya gunakan video, cerita dan gambar-gambar. Dari sinilah kemudian kita berdiskusi panjang lebar. Tidak hanya itu, kadang-kadang ada adik yang curhat, tanya masalah akademik sekolah dan menanyakan pertimbangan. Seperti menanyakan kira-kira masuk SMA atau SMK, enaknya masuk ekstra kurukuler apa dan juga ada yang curhat masalah teman cewek di sekolah.

Kadang-kadang, kita juga mentoring di warung dan rumah adik binaan. Beberapa kali kita mentoring di tempat makan, setelah makan kita diskusi atau sekedar jalan-jalan atau makan-makan sambil bercerita. Dan pernah sekali kelompok kita mentoring di rumah salah satu anak didik, Alhamdulillah. Tanggapan keluarganya begitu positif.

Ramadhan kali inipun kita sepakat membuat target amalan harian seperti sholat lima waktu tidak bolong, tilawah satu lembar per hari, melakukan tadarus bersama, dan yang paling membuat mereka semangat, berburu takjil di Masjid. Iya, mungkin ini kecil bagi kita. Tapi, ini adalah pencapaian terbesar saya selama menjadi pendamping mentoring pena bangsa. Terimkasih YDSF yang telah memberikan kesempatan.

Semoga Allah swt meridhai kita semua, amin.



 Saya, Erik Sugianto

artikel ini juga berada di, http://www.ydsf.org/komunitas/menjadi-pendamping-mentoring-kesempatan-besar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar